radarsurabayabisnis.id - Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus melakukan berbagai upaya menghadapi kekeringan sekaligus mengantisipasi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Salah satunya melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan menyebarkan 3,2 ton garam ke sejumlah wilayah yang dinilai rawan.
OMC tersebut dilakukan Pemprov Jatim bersama Kementerian Kehutanan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim.
Baca Juga: Kebakaran Hutan Disebabkan Manusia atau Alam? Ini Faktanya
Operasi berlangsung empat kali pada 3–6 September 2026. Hasil pemantauan menunjukkan hujan mulai turun di sejumlah wilayah sasaran.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, berdasarkan pemantauan alat Automatic Rain Gauge (ARG) hingga 6 September, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang tercatat di 11 titik yang tersebar di enam kabupaten.
“Alhamdulillah, pelaksanaan OMC menunjukkan hasil positif. Berdasarkan pemantauan melalui perangkat ARG, hujan terpantau turun di 11 titik pada enam kabupaten yang menjadi wilayah sasaran prioritas,” kata Khofifah, Selasa (8/9).
3,2 Ton Garam Disebar, Hujan Mulai Turun
Enam kabupaten yang menjadi wilayah sasaran dan tercatat mengalami hujan yakni Lumajang, Banyuwangi, Malang, Jember, Trenggalek, dan Pacitan.
Di Lumajang, hujan sedang tercatat di ARG Pronojiwo. Sementara hujan ringan terpantau di Pasrujambe, Pasirian, dan Jokarto.
Hujan ringan juga tercatat di dua titik Banyuwangi, yakni ARG Lidjen Jambu dan Kalibaru.
Baca Juga: Atasi Kebakaran Hutan RI, Malaysia Bakal Kolaborasi Modifikasi Cuaca
Di Kabupaten Malang, hujan ringan terpantau di Sitiarjo dan Dampit. Kemudian di Jember, hujan ringan tercatat di ARG Rekayasa Panti.
Kondisi serupa juga terpantau di ARG Trenggalek serta ARG Sudimoro, Pacitan.
Khofifah berharap turunnya hujan dapat membantu mengurangi tekanan akibat kekeringan, terutama di wilayah yang mengalami keterbatasan air.
“Semoga hujan yang turun ini memberikan manfaat bagi masyarakat, membantu menjaga ketersediaan air, mengurangi dampak kekeringan, serta menekan risiko kebakaran hutan dan lahan,” ujarnya.
OMC Empat Kali Selama 3–6 September
Data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana BPBD Jatim mencatat OMC dilakukan sebanyak empat kali sepanjang 3–6 September.
Total 3.200 kilogram atau 3,2 ton NaCl disebarkan dalam rangkaian operasi tersebut.
OMC pertama dilakukan pada Kamis (3/9) pukul 15.50 WIB menggunakan pesawat CASA NC212/A-2104. Sebanyak 800 kilogram NaCl disebarkan dengan sasaran wilayah Lumajang dan Probolinggo.
Sehari kemudian, Jumat (4/9), operasi kembali dilakukan sekitar pukul 15.25 WIB. Sasaran diperluas mencakup kawasan Probolinggo-Lumajang, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kota Batu, Gunung Arjuno, hingga Malang.
Secara keseluruhan, operasi menyasar Malang, Kota Batu, Lumajang, Probolinggo, Jember, Bondowoso, dan Banyuwangi.
Tidak Bisa Sembarangan Datangkan Hujan
Meski OMC dilakukan untuk membantu menghadapi kekeringan, operasi tersebut tidak dapat dilakukan secara sembarangan.
Pelaksanaannya sangat bergantung pada kondisi atmosfer dan keberadaan awan potensial. BMKG terlebih dahulu memantau pergerakan awan sebelum menentukan wilayah yang memiliki peluang untuk menghasilkan hujan.
Dengan demikian, penyebaran bahan dalam OMC dilakukan pada lokasi dan kondisi atmosfer yang dinilai mendukung. Pemerintah berharap upaya tersebut dapat membantu menjaga ketersediaan air sekaligus mengurangi potensi meluasnya karhutla selama musim kemarau.
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Surabaya