radarsurabayabisnis.id - Ekonom sekaligus mantan Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro menilai integrasi antarruas jalan tol sangat penting untuk menciptakan ekosistem infrastruktur yang efektif sekaligus memperkuat daya saing ekonomi nasional.
Menurut Bambang, konektivitas jalan tol yang mulus menjadi salah satu fondasi utama dalam meningkatkan efisiensi logistik. Integrasi tidak hanya dibutuhkan dari sisi fisik, tetapi juga harus didukung sistem transaksi yang sederhana agar perjalanan pengguna tidak terhambat oleh gerbang pembayaran berulang.
Baca Juga: Ulama Madura Klarifikasi Isu Tolak Industri di Bangkalan, Bassra Akan Serap Aspirasi Warga
Integrasi Tol Dinilai Bisa Pangkas Hambatan Perjalanan
Bambang mendorong seluruh badan usaha jalan tol untuk bekerja sama dalam membangun sistem yang terintegrasi, termasuk penggunaan satu lajur dengan mekanisme pembagian pendapatan secara proporsional.
Menurut dia, optimalisasi jaringan jalan tol selama ini masih menghadapi kendala karena regulasi yang belum mengikat seluruh pihak. Karena itu, diperlukan kepastian hukum agar integrasi jalan tol dapat ditempatkan sebagai kepentingan nasional, bukan hanya kepentingan bisnis masing-masing badan usaha jalan tol.
Baca Juga: Bukan Sekadar Naik! Ini Alasan Tarif Tol Dievaluasi Tiap 2 Tahun
Integrasi tersebut dinilai penting karena jaringan tol yang terfragmentasi dapat meningkatkan biaya perjalanan dan logistik. Kondisi itu pada akhirnya berpotensi mengurangi daya saing ekonomi nasional.
Pemerintah Diminta Siapkan Payung Hukum
Di tengah keterbatasan ruang fiskal, Bambang meminta pemerintah menyiapkan payung hukum sekaligus wadah kolaborasi antarkementerian untuk mendorong integrasi jaringan jalan tol.
Ia juga mengusulkan skema bundling atau subsidi silang sejak proses lelang. Skema tersebut dapat dilakukan dengan menggabungkan ruas tol yang memiliki tingkat komersial tinggi dengan akses menuju pelabuhan yang memiliki tingkat pengembalian investasi lebih rendah.
Dengan pendekatan tersebut, pembangunan dan pengelolaan jaringan tol diharapkan tidak hanya berorientasi pada kelayakan masing-masing ruas, tetapi juga mempertimbangkan manfaat konektivitas secara keseluruhan.
Bambang menilai tanpa integrasi, jaringan jalan tol akan tetap terfragmentasi. Dampaknya antara lain biaya logistik yang tinggi serta meningkatnya beban kendaraan berat di jalan arteri yang dapat mempercepat kerusakan infrastruktur jalan non-tol.
Industri Jalan Tol Didorong Berorientasi Pelayanan Publik
Ketua Umum Asosiasi Jalan Tol Indonesia Rivan A. Purwantono menambahkan, industri jalan tol perlu memiliki orientasi terhadap pelayanan publik sekaligus menjaga keberlanjutan usaha.
“Kami ingin membangun ekosistem tol yang memberi nilai berkelanjutan bagi pengguna, negara, dan pelaku industri,” ujarnya.
Integrasi jaringan jalan tol diharapkan dapat menciptakan konektivitas yang lebih efisien, memperlancar distribusi barang, sekaligus mendukung penguatan daya saing ekonomi nasional.
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Surabaya