RADAR SURABAYA BISNIS – Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat pembenahan dan pemeliharaan jaringan irigasi tersier guna mengantisipasi ancaman kekeringan akibat kemarau dan El Nino.
Langkah strategis ini tidak hanya bertujuan untuk mengamankan ketersediaan air, tetapi juga ditargetkan mampu meningkatkan frekuensi tanam petani.
Hingga saat ini, realisasi fisik Pengelolaan Operasional dan Pemeliharaan (OP) irigasi tersier telah mencapai 76 persen, atau sekitar 6.861 unit dari total target 9.000 unit di seluruh Indonesia.
Baca Juga: Pemkot Surabaya Rombak Tata Ruang 2026, Fokus Urai Macet dan Amankan Lahan Warga
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa optimalisasi infrastruktur air merupakan kunci keberlanjutan produksi. Menurutnya, pemanfaatan air harus mampu mendorong lahan agar dapat ditanami hingga tiga kali dalam setahun.
"Ini harus kita resonansikan ke seluruh Indonesia. Dulu tanam dua kali, bisa tiga kali. Nanti kita sisir seluruh Jawa dan luar Jawa. Kita sisir semua yang ada sumber air, kita pasangkan pompa," ungkap Mentan Amran.
Direktur Irigasi Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian, Liferdi Lukman, dalam Rapat Koordinasi dan Evaluasi di Bandung (3/9) memaparkan tiga langkah utama yang disiapkan Kementan untuk menghadapi El Nino.
Baca Juga: MUI: Label No Pork No Lard Tak Serta-merta Jamin Kehalalan Menu
Pertama, pemanfaatan air permukaan melalui perbaikan saluran irigasi tersier, perpipaan, dan pompanisasi. Kedua, jika air permukaan terbatas, Kementan akan memanfaatkan air tanah melalui sumur bor atau Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT).
Ketiga, Kementan juga telah menyiapkan bantuan benih gratis untuk percepatan tanam berikutnya jika terjadi puso atau gagal panen yang tidak dapat diselamatkan.
"Ketersediaan air menentukan kemampuan petani mempertahankan musim tanam sekaligus meningkatkan produktivitas lahan," jelas Liferdi.
Baca Juga: Serangan Siber Makin Kompleks, APJII Dukung RUU KKS Segera Disahkan
Berdasarkan pengalaman penanganan mitigasi kekeringan pada 2015 dan 2023, intervensi pompanisasi terbukti efektif. Pemasangan sekitar 100 ribu unit pompa sebelumnya mampu memberikan tambahan produksi hingga 2,8 juta ton gabah di Pulau Jawa.
Selain mengamankan pasokan air, Kementan juga mendorong penerapan teknologi budidaya yang efisien. Liferdi menjelaskan bahwa secara teknis, produktivitas padi saat musim kemarau justru berpotensi meningkat hingga 2 ton per hektare karena intensitas sinar matahari yang optimal.
"Padi bukan tanaman air, sehingga penerapan pola hemat air seperti Alternating Wetting and Drying (AWD) atau macak-macak sangat efektif. Inilah yang sedang kita dorong melalui Pertanian Modern atau Advanced Agriculture System," tambahnya.
Baca Juga: Pemprov Jatim Evaluasi Aturan Sound Horeg Usai 3 Warga Meninggal Dunia
Untuk memastikan kelancaran program ini, Kementan terus memperkuat koordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU), pemerintah daerah, TNI, Polri, serta jajaran penyuluh pertanian di wilayah rawan kekeringan seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan.
Kementan dan Kementerian PU juga siap mengeksekusi Inpres Nomor 2 Tahun 2025 tentang Irigasi demi menuntaskan pembenahan infrastruktur pengairan nasional.
Editor : Hany AkasahSumber : radar surabaya bisnis