Nepal-Tibet Terancam Banjir Susulan, Danau Baru Terbentuk dari Sumbatan Material Longsor

Hany Akasah • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 19:09 WIB
Material es dan puing menyumbat sungai, memicu ancaman banjir susulan.
Material es dan puing menyumbat sungai, memicu ancaman banjir susulan.

RADAR SURABAYA BISNIS – Wilayah perbatasan Nepal-Tibet menghadapi ancaman banjir susulan, setelah material longsor menyumbat aliran sungai dan membentuk danau yang terus membesar.

Peringatan ini muncul menyusul bencana banjir bandang dan longsor yang menerjang kawasan tersebut pada Rabu (26/8/2026), yang hingga kini telah menewaskan sedikitnya 392 orang, dengan lebih dari 1.400 orang lainnya masih hilang.

"Karena sumbatan masih berada di bagian hulu sungai perbatasan Nepal-China, pihak berwenang memperingatkan bahwa banjir kedua dapat terjadi," kata Qianggong Zhang, kepala bidang risiko iklim dan lingkungan di International Centre for Integrated Mountain Development, dikutip dari AFP.

Baca Juga: 170 Pendaki Semeru Berhasil Dievakuasi, Jalur Pendakian Masih Ditutup Total

Divisi Prakiraan Banjir Kathmandu telah mengeluarkan pemberitahuan khusus, Kamis (27/8/2026), memperingatkan danau yang terbentuk di belakang timbunan material terus membesar.

Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mengungkap bencana ini sebenarnya dipicu runtuhnya gletser, bukan gempa bumi seperti laporan awal.

Peristiwa itu semula terdeteksi sebagai gempa magnitudo 4,4, namun setelah menganalisis rekaman seismik, USGS menyimpulkan getaran tersebut berasal dari runtuhnya gletser dan aliran material besar berupa es serta puing lainnya, yang menimbulkan dampak "katastropik" di wilayah hilir Nepal dan Tibet.

Baca Juga: Pertamina Gas Kelola 369,7 Km Jaringan Pipa untuk Jaga Pasokan Gas Bumi Jawa Timur

Sejarawan lingkungan Ruth Gamble dari La Trobe University menggambarkan arus lumpur dan material tersebut seperti tsunami di daratan, yang bergerak hampir 170 kilometer ke arah selatan hingga memasuki wilayah Nepal.

Di tengah ancaman banjir susulan, tim darurat terus berpacu mengevakuasi penyintas, dengan tentara Nepal mengerahkan anjing pelacak untuk mencari korban yang tertimbun lumpur.

Polisi Nepal mencatat telah menemukan 389 jenazah. Sebanyak 910 orang masih belum dapat dihubungi di Nepal, termasuk 517 wisatawan asing, sementara Beijing melaporkan 100 warga China lainnya juga hilang di Nepal dan belum termasuk dalam angka tersebut.

Baca Juga: Tinjau Proyek Saluran, Eri Cahyadi Minta Kontraktor Selesaikan Pengaspalan Sesuai SOP

Sementara di wilayah Tibet, media pemerintah China melaporkan bencana yang disebut "longsor lumpur" di Pelabuhan Gyirong menewaskan tiga orang, dengan 558 orang lainnya dilaporkan hilang, termasuk 260 warga asing. Perdana Menteri China Li Qiang mengunjungi lokasi bencana pada Kamis untuk mengawasi operasi penanganan.

Perdana Menteri Nepal Balen Shah turut mengunjungi sejumlah wilayah terdampak parah pada Kamis, menyerukan masyarakat untuk bersatu dan meminta pemerintah daerah segera memberikan bantuan kepada keluarga yang mengungsi, sekaligus membuka kembali jalan-jalan yang terputus akibat bencana.

Baca Juga: DPR Janji Sahkan RUU Perampasan Aset 15 Desember 2026, Pimpinan Siap Mundur Jika Gagal

Editor : Hany Akasah
Sumber : radar surabaya bisnis
nepal banjir susulan longsor bencana alam banjir