RADAR SURABAYA BISNIS – Di tengah sorotan internasional terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan yang asapnya bahkan sampai ke Malaysia, muncul pertanyaan soal penyebab utama fenomena ini: murni faktor alam, atau justru dipicu aktivitas manusia?
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), karhutla merupakan kejadian yang kerap berulang di Indonesia, dengan peristiwa paling signifikan tercatat pada 1997-1998 di lahan gambut Kalimantan dan Sumatera.
Mantan Kepala BNPB, almarhum Doni Monardo, pernah mengungkapkan bahwa 99 persen kejadian karhutla disebabkan ulah manusia, baik disengaja maupun akibat kelalaian.
Baca Juga: Camilan UMKM Indonesia Laris di Cile, Sukses Raup Transaksi Rp510 Juta
"Saya mempunyai data, penyebab Karhutla adalah 99% ulah manusia ada yang disengaja ada yang lalai, dan 80% lahan yang terbakar pada akhirnya menjadi kebun," kata Doni, dikutip dari laman Sekretariat Kabinet RI.
Temuan serupa juga tercatat dalam studi yang dipublikasikan Jurnal UGM Vol 33 No 5 (2017) oleh Purwaningsih, yang menyebut 90 persen kebakaran hutan disebabkan manusia atau sengaja dibakar.
"Penyebab utama terjadinya kebakaran hutan di Kalimantan adalah karena aktivitas manusia dan hanya sebagian kecil yang disebabkan oleh kejadian alam," tulis studi tersebut.
Menurut arsip Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lima Puluh Kota, pembakaran lahan yang dilakukan manusia secara tidak terkendali kerap sulit dipadamkan dalam skala besar, terutama di lahan gambut.
Baca Juga: Pemerintah Evaluasi Skema Insentif Motor Listrik agar Lebih Mudah Diserap
Kondisi ini kerap diperparah konflik lahan antara perusahaan dan masyarakat pemilik lahan, di mana pembakaran menjadi salah satu cara yang digunakan pihak tertentu untuk menguasai lahan.
Selain faktor sengaja dibakar, BPBD Lima Puluh Kota turut menyoroti lemahnya penegakan hukum sebagai faktor yang memperparah persoalan ini, karena minimnya sanksi tegas membuat pelanggaran pembakaran lahan skala besar terus berulang.
Sementara itu, Kelompok Pengkaji Lingkungan Aesculap (KPLA) Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga menjelaskan karakteristik lahan gambut membuat api sulit dipadamkan, karena kebakaran permukaan (flaming fire) dapat berubah menjadi kebakaran gambut (smoldering peat fire) yang merangsek ke lapisan tanah, sehingga bara api dapat bertahan hingga berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Baca Juga: BPS Buka Suara soal Geger Penetapan Desil 1-10 DTSEN, Ini Penjelasannya
Karhutla menimbulkan dampak yang meluas, mulai dari musnahnya flora dan fauna, polusi udara beracun yang memicu penyakit seperti ISPA, berkurangnya sumber air bersih, ancaman kesehatan bagi kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, ibu hamil, dan lansia, hingga potensi tanah longsor pada musim hujan di kawasan bekas terbakar.
Editor : Hany AkasahSumber : radar surabaya bisnis