RADAR SURABAYA BISNIS – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang tengah digalakkan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dinilai sebagai langkah awal yang sangat baik.
Namun, agar dampaknya lebih maksimal, data hasil pemeriksaan warga diharapkan tidak hanya berhenti sebagai angka statistik, melainkan ditindaklanjuti melalui intervensi terarah.
Hal tersebut disampaikan oleh M. Isa Ansori dari Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Jawa Timur pada Senin (24/8/2026). Ia mendorong agar program CKG dapat dihubungkan dengan pengembangan konsep RS Smart.
Baca Juga: Tiga Desainer Jatim Raih Tiket ke Tingkat Nasional Fatmawati Trophy 2026
Konsep ini memposisikan diri sebagai penghubung antara data kesehatan warga, layanan medis, dan kekuatan komunitas di tingkat rukun warga (RW).
"CKG jangan berhenti sebagai kegiatan pemeriksaan kesehatan. Data hasil pemeriksaan harus berubah menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi deteksi risiko, deteksi risiko menjadi intervensi, dan intervensi menghasilkan perubahan kualitas hidup warga," tegas Isa.
Tantangan kesehatan masyarakat saat ini semakin kompleks. Tidak hanya sebatas penyakit menular, tetapi juga faktor risiko gaya hidup seperti hipertensi, obesitas, diabetes, hingga masalah kesehatan mental.
Baca Juga: Pemerintah Evaluasi Skema Insentif Motor Listrik agar Lebih Mudah Diserap
Menurut Isa, pendekatan RS Smart mampu mengubah paradigma sistem layanan kesehatan dari yang bersifat reaktif menjadi proaktif.
Warga yang memiliki faktor risiko dapat diarahkan untuk pemeriksaan lanjutan, edukasi pola hidup, hingga pendampingan keluarga secara berkala.
"Paradigmanya bukan lagi menunggu orang sakit datang ke fasilitas kesehatan. Orang sehat dijaga agar tetap sehat, yang memiliki risiko lebih awal ditemukan, dan yang sakit mendapat pengobatan serta rehabilitasi yang tepat," paparnya.
Baca Juga: Sawit Indonesia Bakal Makin Cuan, Kebutuhan Minyak Nabati Dunia Tembus 300 Juta Ton
Dalam implementasinya, RS Smart tidak dibangun untuk menggantikan peran rumah sakit atau Puskesmas. Sebaliknya, konsep ini memberdayakan lingkungan RW sebagai ruang integrasi yang paling dekat dengan keseharian masyarakat.
Jejaring yang dibangun akan melibatkan RT, kader kesehatan, Posyandu, sekolah, keluarga, hingga tenaga medis profesional seperti dokter dan psikolog.
Salah satu bentuk nyatanya adalah pengembangan Health Dashboard berbasis RW yang dapat memetakan profil risiko kesehatan suatu wilayah secara agregat tanpa melanggar pelindungan data pribadi warga.
Baca Juga: Honda Tebar Promo Puluhan Juta di GIIAS Surabaya 2026 dan Hadirkan Culture Evolve
"Teknologi menjadi penghubungnya. Yang dibangun bukan rumah sakit baru di setiap RW, tetapi jejaring kesehatan yang saling terhubung dan mampu merespons risiko kesehatan warga," tambah Isa.
Sebagai mitra pengetahuan, ICMI Jatim menegaskan komitmennya untuk membantu memperkuat ekosistem kesehatan yang sudah dibangun oleh Pemkot Surabaya.
Melalui kolaborasi ini, keberhasilan program CKG ke depan tidak lagi sekadar diukur dari seberapa banyak warga yang diperiksa, melainkan seberapa banyak risiko penyakit yang berhasil dicegah sejak dini.
Baca Juga: Kemenkeu Pakai Skema Kilat Lunasi Utang Whoosh, Purbaya Pastikan Tak Bebani APBN
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Surbaya Bisnis