RADAR SURABAYA BISNIS – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis prediksi terkait kapan musim kemarau 2026 berakhir di Indonesia.
Berdasarkan prakiraan terbaru, puncak kemarau diprediksi akan berakhir pada pertengahan hingga akhir Oktober 2026, meski sejumlah wilayah masih berpotensi mengalaminya hingga November.
Kondisi cuaca yang terasa lebih kering dan berlangsung lebih lama dari kondisi normal ini dipicu oleh fenomena iklim El Nino.
Baca Juga: BNPB: 11.925 Rumah Rusak Akibat Gempa NTT, 40.040 Warga Mengungsi
Dampak El Nino Terhadap Kemarau 2026
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa fenomena El Nino diperkirakan bertahan hingga awal tahun 2027.
Peluang intensitas El Nino mencapai kategori moderat berada di angka 98 persen, sementara untuk kategori kuat mencapai 62 persen.
"Namun demikian, dampaknya untuk wilayah Indonesia ketika bertemu periode musim kemarau hingga pertengahan bulan Oktober," jelas Ardhasena, dikutip dari laman resmi BMKG.
Baca Juga: Hari Kelima Pascagempa NTT, 253 Ton Logistik Bantuan Sudah Dikirim
Durasi Musim Kemarau di Berbagai Wilayah Indonesia
Berdasarkan data pemutakhiran BMKG per Juni 2026, durasi musim kemarau bervariasi di tiap wilayah. Berikut adalah rincian perkiraannya:
- Sumatera: 30–280 hari
- Jawa: 110–300 hari
- Bali, NTB, dan NTT: 190–290 hari
- Kalimantan: 40–180 hari
- Sulawesi: 50–280 hari
- Maluku Utara, Maluku, dan Papua: 30–230 hari
Baca Juga: Prabowo Siapkan Insentif untuk Produksi 1 Juta Motor Listrik
Imbauan Antisipasi Kekeringan dan Karhutla
Menurut laporan prakiraan cuaca BMKG untuk periode 14–20 Agustus 2026, sekitar 76,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.
Saat ini, kondisi atmosfer dipengaruhi oleh El Nino berintensitas sangat kuat yang disertai kecenderungan Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Hal ini menyebabkan suplai uap air berkurang sehingga atmosfer cenderung lebih kering.
Meski demikian, hujan lokal dalam intensitas tertentu masih berpotensi terjadi di wilayah Aceh, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, dan Papua Pegunungan.
Baca Juga: Tiga Titik Api Membara di Gunung Arjuno, Jalur Pendakian Arjuno-Welirang Ditutup
Menghadapi kondisi cuaca yang kering, BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk mengambil langkah mitigasi, di antaranya menghemat penggunaan air bersih, meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan tidak membakar sampah atau membuka lahan sembarangan, khususnya di area rawan seperti lahan gambut, semak belukar, dan hutan.
Editor : Hany AkasahSumber : radar surabaya bisnis