Kapan Musim Kemarau 2026 Berakhir? Ini Prediksi BMKG

Hany Akasah • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 07:52 WIB
ILUSTRASI: BMKG memprediksi musim kemarau 2026 di Indonesia baru akan berakhir pada Oktober-November akibat dampak fenomena El Nino.
ILUSTRASI: BMKG memprediksi musim kemarau 2026 di Indonesia baru akan berakhir pada Oktober-November akibat dampak fenomena El Nino.

RADAR SURABAYA BISNIS – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis prediksi terkait kapan musim kemarau 2026 berakhir di Indonesia. 

Berdasarkan prakiraan terbaru, puncak kemarau diprediksi akan berakhir pada pertengahan hingga akhir Oktober 2026, meski sejumlah wilayah masih berpotensi mengalaminya hingga November.

Kondisi cuaca yang terasa lebih kering dan berlangsung lebih lama dari kondisi normal ini dipicu oleh fenomena iklim El Nino.

Baca Juga: BNPB: 11.925 Rumah Rusak Akibat Gempa NTT, 40.040 Warga Mengungsi

Dampak El Nino Terhadap Kemarau 2026

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa fenomena El Nino diperkirakan bertahan hingga awal tahun 2027. 

Peluang intensitas El Nino mencapai kategori moderat berada di angka 98 persen, sementara untuk kategori kuat mencapai 62 persen.

"Namun demikian, dampaknya untuk wilayah Indonesia ketika bertemu periode musim kemarau hingga pertengahan bulan Oktober," jelas Ardhasena, dikutip dari laman resmi BMKG.

Baca Juga: Hari Kelima Pascagempa NTT, 253 Ton Logistik Bantuan Sudah Dikirim

Durasi Musim Kemarau di Berbagai Wilayah Indonesia

Berdasarkan data pemutakhiran BMKG per Juni 2026, durasi musim kemarau bervariasi di tiap wilayah. Berikut adalah rincian perkiraannya:

Baca Juga: Prabowo Siapkan Insentif untuk Produksi 1 Juta Motor Listrik

 

Imbauan Antisipasi Kekeringan dan Karhutla

Menurut laporan prakiraan cuaca BMKG untuk periode 14–20 Agustus 2026, sekitar 76,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. 

Saat ini, kondisi atmosfer dipengaruhi oleh El Nino berintensitas sangat kuat yang disertai kecenderungan Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Hal ini menyebabkan suplai uap air berkurang sehingga atmosfer cenderung lebih kering.

Meski demikian, hujan lokal dalam intensitas tertentu masih berpotensi terjadi di wilayah Aceh, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, dan Papua Pegunungan.

Baca Juga: Tiga Titik Api Membara di Gunung Arjuno, Jalur Pendakian Arjuno-Welirang Ditutup

Menghadapi kondisi cuaca yang kering, BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk mengambil langkah mitigasi, di antaranya menghemat penggunaan air bersih, meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan tidak membakar sampah atau membuka lahan sembarangan, khususnya di area rawan seperti lahan gambut, semak belukar, dan hutan.

Editor : Hany Akasah
Sumber : radar surabaya bisnis
prediksi kemarau el nino bmkg kekeringan