Kisah Pengungsi Gempa Nagekeo: Krisis Air Bersih hingga Perahu Nelayan Hancur

Hany Akasah • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 13:19 WIB
Kondisi pengungsi gempa Nagekeo, NTT, di lokasi mandiri. Warga mulai kesulitan air bersih dan logistik, sementara nelayan pesisir kehilangan perahu hancur disapu gelombang.
Kondisi pengungsi gempa Nagekeo, NTT, di lokasi mandiri. Warga mulai kesulitan air bersih dan logistik, sementara nelayan pesisir kehilangan perahu hancur disapu gelombang.

RADAR SURABAYA BISNIS – Warga terdampak gempa bumi di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), kini menghadapi krisis air bersih di sejumlah lokasi pengungsian mandiri. 

Selain krisis kebutuhan dasar, dampak gempa juga merusak perekonomian warga pesisir yang kehilangan perahu akibat disapu gelombang.

Saat ini, para pengungsi gempa Nagekeo tersebar di berbagai titik aman, mulai dari kawasan perbukitan, halaman rumah yang lapang, tempat ibadah, hingga ruang terbuka lainnya.

Baca Juga: Ratusan Ribu Unit Rumah Tersalurkan untuk Masyarakat di Semester I 2026

Krisis Air Bersih di Lokasi Pengungsian

Berdasarkan keterangan warga, pasokan air bersih kini menjadi kebutuhan yang paling mendesak. Air tersebut tidak hanya krusial untuk air minum, tetapi juga untuk keperluan sanitasi, memasak, dan kebutuhan anak-anak di tenda pengungsian.

"Air mulai susah. Kami sangat butuh untuk minum, memasak, dan terutama untuk anak-anak," ungkap salah seorang warga Desa Aeramo saat ditemui di lokasi pengungsian.

Kondisi psikologis warga juga masih diliputi trauma. Banyak dari mereka yang belum berani kembali ke tempat tinggalnya karena khawatir akan gempa susulan serta kondisi rumah yang retak hingga roboh. Selain pasokan air, pengungsi sangat menantikan bantuan logistik berupa makanan siap saji, selimut, dan obat-obatan.

Baca Juga: Utang Luar Negeri RI Tembus 453,4 Miliar Dolar AS di Kuartal II 2026

Nelayan Pesisir Kehilangan Mata Pencaharian

Selain merusak rumah warga, gempa Nagekeo juga menghantam sektor pesisir. Nelayan setempat harus menelan kerugian besar setelah alat tangkap dan perahu mereka hancur diterjang gelombang laut sesaat setelah gempa terjadi.

Sudarling, seorang nelayan asal Desa Nangadhero, menuturkan bahwa gelombang air laut sempat naik dan merendam permukiman.

"Keadaan di bawah (pesisir) rumah hancur, perahu-perahu juga hilang semua. Air naik sampai rumah tergenang, perahu kita di bawah pada hancur," kata Sudarling.

Baca Juga: Ulama Madura Klarifikasi Isu Tolak Industri di Bangkalan, Bassra Akan Serap Aspirasi Warga

Pernyataan serupa disampaikan oleh Pulus Bhara, warga asal Kolikapa. Ia membenarkan parahnya tingkat kerusakan bangunan di wilayahnya akibat guncangan gempa.

"Banyak yang hancur. Kami saksikan sendiri karena rumah kami juga di situ, ada yang roboh. Karena alamnya begini, kita pasrah saja," ujar Pulus.

Menghadapi kondisi tanggap darurat ini, warga terdampak berharap Pemerintah Daerah Kabupaten Nagekeo dan instansi terkait segera turun tangan. 

Baca Juga: Stimulus Ekonomi Rp26,34 Triliun Dinilai Penting, Dari Bantuan Pangan hingga Magang

Bantuan prioritas yang paling diharapkan saat ini adalah penyediaan titik distribusi air bersih (mobil tangki air), fasilitas toilet portabel untuk menjaga sanitasi pengungsi, dan perhatian khusus berupa nutrisi dan medis bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil.

Editor : Hany Akasah
Sumber : Radar Surbaya Bisnis
Gempa NTT nagekeo gempa bumi krisis air nelayan