Atasi Kesenjangan Daerah, 1.360 Siswa Pertama Jalani Pendidikan Berbasis STEM di Sekolah Nasional Terintegrasi

Hany Akasah • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 09:13 WIB
Potret siswa saat mengikuti pengenalan lingkungan Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT). Sebanyak 1.360 siswa resmi memulai ajaran baru di 17 SNT untuk pemerataan pendidikan unggul.
Potret siswa saat mengikuti pengenalan lingkungan Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT).

RADAR SURABAYA BISNIS – Sebanyak 1.360 siswa berprestasi resmi memulai tahun ajaran baru di 17 Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT). 

Pengoperasian sekolah ini merupakan langkah strategis pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk mewujudkan pemerataan pendidikan berkualitas di seluruh Indonesia.

Deputi I Bidang Strategi dan Sistem Komunikasi Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Fahd Pahdepie, mengonfirmasi bahwa angkatan pertama ini sedang menjalani masa pengenalan lingkungan sekolah.

Baca Juga: Antara Self-Reward dan Tabungan Masa Depan, Cara Gen Z Hadapi Tekanan Ekonomi

"Saat ini baru dibuka dan masuk masa pengenalan lingkungan sekolah, artinya ini adalah angkatan pertama untuk SNT. Dari total 17 SNT yang beroperasi, terdapat sekitar 1.360 siswa," jelas Fahd dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (12/8/2026).

Fahd merinci, setiap SNT menampung siswa jenjang SMP dan SMA. Masing-masing jenjang terdiri dari dua kelas yang berisi 20 siswa per kelasnya. 

Saat ini, 17 SNT tersebut telah tersebar di 17 kabupaten/kota di 13 provinsi, sementara 20 lokasi lainnya masih dalam tahap pembangunan.

Baca Juga: Lampaui Target, Literasi Keuangan Masyarakat Indonesia Tahun 2026 Terus Meningkat

Menekan Ketimpangan Kualitas Pendidikan Daerah

Pembangunan SNT dilatarbelakangi oleh tingginya ketimpangan kualitas fasilitas pendidikan di Indonesia. Berdasarkan data Kemendikdasmen per 30 Juni 2025, hanya 4 persen (263 dari 7.288) kecamatan di Indonesia yang memiliki SMP dan SMA berakreditasi A.

Sebaran sekolah bermutu tersebut saat ini masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Sebagai perbandingan, di wilayah Papua hanya terdapat empat sekolah bermutu yang tersebar di tiga kecamatan. Hadirnya SNT diharapkan mampu memutus kesenjangan tersebut.

Baca Juga: Tiket Kereta Diskon 17 Persen! Promo 17 Agustus 2026 KAI, Ini Jadwal Belinya

 

Fasilitas Modern dan Pendekatan STEM

Pemerintah menargetkan pembangunan 500 SNT di seluruh Indonesia. Sekolah ini dirancang dengan fasilitas pendukung bertaraf tinggi, di antaranya perpustakaan dengan akses e-journal global, ruang diskusi dan pusat olahraga terpadu dan fasilitas kendaraan antar-jemput murid.

Untuk menjaga kualitas pengajaran, pemerintah telah menyiapkan 17 kepala sekolah dan 204 tenaga pendidik. Rasio pembelajarannya pun dibuat sangat ideal, yakni satu guru mendidik enam murid (1:6).

"Ini adalah desain yang sangat ideal bagi sekolah yang ingin mencetak lulusan dan mendidik siswa berprestasi, sejalan dengan visi Bapak Presiden," tambah Fahd.

Baca Juga: Tissa Biani dan Dul Jaelani Jelajahi Kota Lama Surabaya, Mampir ke Radar Surabaya

SNT dirancang mengintegrasikan jenjang SMP dan SMA dalam satu ekosistem. Berbeda dengan Sekolah Rakyat atau Sekolah Unggul Garuda, SNT menggunakan pendekatan pembelajaran mendalam berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) serta olahraga. 

Ekosistem ini memberikan ruang yang lebih luas bagi siswa untuk mengembangkan karakter, bakat, dan minat mereka secara maksimal.

Editor : Hany Akasah
Sumber : radar surabaya bisnis
sekolah nasional terintegrasi ketimpangan daerah pendidikan kemendikdasmen siswa