RADAR SURABAYA BISNIS - Jaringan seluler kini bukan lagi sekadar sarana komunikasi dasar, melainkan telah berevolusi menjadi tulang punggung operasional bisnis digital di era Industri 4.0. Saat ini, dunia usaha tengah bertransisi secara masif dari teknologi 4G menuju generasi kelima atau 5G.
Lompatan teknologi ini membawa potensi ekonomi yang sangat besar. Berdasarkan laporan dari GSMA, teknologi 5G diperkirakan akan memberikan kontribusi hingga USD 960 miliar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) global pada tahun 2030. Namun, apa perbedaan mendasar yang membuat 5G mampu mendongkrak daya saing perusahaan?
Baca Juga: Magang Nasional 2026 Diserbu 300 Ribu Pelamar, Kuota Batch 1 Hanya 50 Ribu
Dalam dunia bisnis, waktu adalah uang. Jaringan 4G memiliki rata-rata latensi (hambatan waktu pengiriman data) sekitar 30-50 milidetik. Di sisi lain, 5G mampu menekan latensi tersebut hingga di bawah 5 ms, bahkan mendekati 1 ms dalam kondisi optimal.
Respons secepat kilat ini sangat krusial untuk sektor manufaktur. Dengan latensi rendah, perusahaan dapat mengoperasikan robotika canggih secara real-time dan mengimplementasikan pemeliharaan prediktif melalui sensor pada mesin.
Potensi kerusakan dapat dideteksi sebelum terjadi, yang secara langsung menekan tingginya biaya operasional akibat downtime mesin.
Baca Juga: Penjualan Semen Indonesia Naik 5,6 Persen, SIG Bidik Kuasai Pasar Jawa Barat
Salah satu kelemahan 4G adalah penurunan performa di area dengan koneksi padat, karena hanya mampu mendukung sekitar 2.000 perangkat per kilometer persegi. Sementara itu, 5G dirancang untuk menangani hingga 1 juta perangkat dalam satu kilometer persegi.
Kapasitas raksasa ini menjadi fondasi utama bagi ekosistem Internet of Things (IoT) skala besar. Di sektor logistik dan rantai pasok, teknologi ini memungkinkan pelacakan aset secara presisi mulai dari gudang hingga pengiriman akhir. Data seperti suhu, lokasi, dan kondisi barang dikirim seketika ke sistem dasbor pusat, memberikan transparansi penuh.
Baca Juga: BI Genjot QRIS Cross Border, UMKM Kini Lebih Mudah Layani Wisatawan Asing
Implementasi 5G di perusahaan bukan sekadar soal meningkatkan kecepatan internet, melainkan kebutuhan strategi untuk memenangkan persaingan di pasar global.
Perusahaan di sektor logistik, manufaktur, kesehatan, dan keuangan sangat disarankan untuk mulai merancang strategi penerapan jaringan 5G sejak dini.
Bagi bisnis yang membutuhkan pengelolaan jutaan data secara real-time dan ribuan perangkat yang terhubung, beralih ke infrastruktur 5G kini menjadi bentuk investasi jangka panjang yang krusial.
Editor : Hany AkasahSumber : radar surabaya bisnis