RADAR SURABAYA BISNIS - Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) atau Hari Bhayangkara ke-80 yang diperingati setiap tanggal 1 Juli.
Penetapan tanggal ini merujuk pada sejarah diterbitkannya Penetapan Pemerintah (PP) Nomor 11 Tahun 1946, di mana sejak saat itu Korps Kepolisian Negara bertanggung jawab secara langsung kepada Presiden, setelah sebelumnya berada di bawah Kementerian Dalam Negeri.
Pemerintah kemudian memperkuatnya melalui Surat Keputusan (SK) Perdana Menteri RI Nomor 86/PM/II/1954 tertanggal 29 Juli 1954 demi menyatukan seluruh kepolisian daerah yang terpisah-pisah menjadi satu kesatuan nasional.
Secara historis, nama "Bhayangkara" diambil dari istilah yang digunakan oleh Patih Gadjah Mada dari Kerajaan Majapahit untuk menamai pasukan keamanan elite yang bertugas menjaga raja dan kerajaan.
Baca Juga: Temuan Riset di Jawa Timur, Warga Sering Nongkrong dan Ngopi, Konsumsi Gula Tak Terbendung
Cikal bakal Polri modern sendiri telah melewati perjalanan panjang sejak masa kolonial Belanda (1897–1920) hingga masa pendudukan Jepang, di mana kepolisian sempat dibagi-bagi berdasarkan wilayah.
Setelah Indonesia merdeka, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) membentuk Badan Kepolisian Negara (BKN) pada 19 Agustus 1945, disusul pelantikan R.S Soekanto Tjokrodiatmodjo sebagai Kepala Kepolisian Negara (KKN) pertama pada 29 September 1945.
Pada peringatan delapan dekade ini yang digelar pada hari Rabu (01/07/26), Polri resmi mengusung tema "80 Tahun Mengabdi, Polri untuk Masyarakat". Tema ini menjadi refleksi perjalanan panjang pengabdian sekaligus menegaskan komitmen institusi untuk senantiasa melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat dalam menjalankan tugas negara secara humanis serta responsif.
Guna merepresentasikan semangat tersebut, Polri meluncurkan identitas visual berupa logo resmi dengan dominasi warna emas dan perak serta aksen merah putih.
Logo ini memiliki sejumlah filosofi mendalam yang dilansir dari laman Humas Polri:
- Bentuk Angka "80": Melambangkan kematangan, konsistensi, serta perjalanan panjang pengabdian Polri Presisi yang telah mencapai delapan dekade. Warna emas melambangkan kemuliaan, kejayaan, dan prestasi yang diraih. Sementara warna perak menggambarkan modernisasi, profesionalisme, dan transparansi dalam pelaksanaan tugas.
- Lingkaran Merah Putih: Mengelilingi angka 80 sebagai representasi identitas nasional. Elemen ini bermakna bahwa setiap langkah pengabdian Polri senantiasa berlandaskan semangat nasionalisme, cinta tanah air, serta komitmen menjaga kedaulatan NKRI.
- Frasa "Tahun Mengabdi untuk Masyarakat": Penegasan tema HUT dengan tipografi tegas dan dinamis yang mencerminkan kesiapan serta ketegasan Polri dalam memberikan pelayanan terbaik kepada rakyat.
- Garis-Garis Kecepatan (Speed Lines): Melambangkan semangat Polri Presisi yang adaptif, modern, dan responsif terhadap perkembangan zaman guna mewujudkan situasi kamtibmas yang kondusif.
Secara keseluruhan, logo HUT Bhayangkara ke-80 merupakan manifestasi Polri Presisi yang matang dalam pengabdian, berlandaskan nilai-nilai kebangsaan, serta terus bergerak maju melalui modernisasi demi mewujudkan pengabdian tanpa henti kepada masyarakat.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, puncak upacara peringatan Hari Bhayangkara ke-80 pada hari ini dipusatkan di Pusat Latihan (Satlat) Brimob Polri di Cikeas, Bogor, Jawa Barat.
Kadiv Humas Polri, Irjen Johnny Eddizon Isir, menjelaskan bahwa pemilihan lokasi ini sengaja dilakukan secara terbuka agar masyarakat dapat melihat langsung proses pembentukan nilai dan karakter personel kepolisian.
Baca Juga: Peluang Emas! LPDP Tahap II 2026 Bidik Talenta Industri Strategis Nasional
"Satlat Brimob Polri di Cikeas Bogor representasi secara terbuka agar masyarakat dapat melihat setiap tugas kepolisian ada proses pendidikan, latihan, pembentukan nilai-nilai, dan karakter. Polri ingin menunjukkan bahwa kami selalu ada di tengah-tengah masyarakat, di mana pun berada," kata Irjen Johnny Eddizon.
Sebelum menuju acara puncak, Polri telah menggelar berbagai rangkaian kegiatan Bhakti Bhayangkara sejak bulan Mei hingga Juni 2026. Rangkaian acara tersebut dirancang untuk mendekatkan Polri dengan masyarakat melalui pendekatan sosial dan budaya.
"Polri melaksanakan kegiatan Bhakti Bhayangkara seperti bakti sosial, bakti kesehatan, anjangsana, hingga dzikir dan doa bersama lintas agama. Ada juga perlombaan, pekan olahraga, serta pertunjukan wayang sebagai tradisi bangsa," jelas Isir menambahkan.
Puncak perayaan juga dimeriahkan dengan upacara parade, pemberian tanda kehormatan, peragaan defile, acara syukuran, hingga eksibisi (expo) alat utama (alut) dan alat khusus (alsus) karya anak bangsa.
Upacara Hari Bhayangkara ke-80 ini dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo Subianto selaku inspektur upacara, serta dihadiri oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka beserta jajaran menteri Kabinet Merah Putih dan pemangku kepentingan terkait. (nov/han)
Editor : Hany Akasah