Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Tanggul Lumpur Lapindo Nyaris Meluber, Ancam Nadi Ekonomi dan Infrastruktur Vital Sidoarjo

Hany Akasah • Kamis, 11 Juni 2026 | 10:24 WIB
Alat berat ekskavator dikerahkan oleh Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) untuk memperkuat tanggul dan membuat alur aliran guna mencegah luberan yang mengancam infrastruktur vital.
Alat berat ekskavator dikerahkan oleh Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) untuk memperkuat tanggul dan membuat alur aliran guna mencegah luberan yang mengancam infrastruktur vital.

RADAR SURABAYA BISNIS – Kekhawatiran kembali menyelimuti warga dan pelaku ekonomi di sekitar kawasan tanggul Lumpur Lapindo, Sidoarjo. 

Meningkatnya volume air dan lumpur di area penampungan yang kini nyaris menyentuh bibir tanggul memicu alarm kewaspadaan tinggi. 

Kondisi ini tidak hanya membangkitkan trauma bagi warga sekitar, tetapi juga berpotensi mengancam stabilitas ekonomi dan infrastruktur vital Jawa Timur yang melintasi kawasan tersebut.

Baca Juga: Pertamax Tembus Rp 16.250 per Liter, Seberapa Mahal Bensin Kita Dibanding Negara ASEAN?

Berdasarkan pantauan terbaru, di titik 71 yang berbatasan dengan Kelurahan Siring dan Ketapang, aktivitas peninggian tanggul terpaksa dikebut. 

Sudarmawan, Ketua RT 11 RW 2 Desa Gempolsari, mengungkapkan bahwa ketinggian air di kolam penampungan kini berjarak sangat kritis, hanya sekitar satu meter dari puncak tanggul. Selain itu, rembesan air terpantau muncul di sepanjang 100 meter bawah tanggul titik 68.

Melubernya tanggul bukan sekadar bencana lingkungan, melainkan ancaman serius bagi roda perekonomian. Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) menyadari betul risiko ini. 

Baca Juga: Harga Ayam Anjlok di Bawah Acuan, Bapanas Siapkan Intervensi untuk Selamatkan Peternak

Jika lumpur meluber, aset-aset krusial seperti jalan raya arteri dan jalur rel kereta api bisa lumpuh, yang secara langsung akan memutus rantai pasok logistik dan pergerakan ekonomi di wilayah Jawa Timur.

Menanggapi situasi genting ini, Ketua Tim Operasi dan Pemeliharaan PPLS, Fahmi, menegaskan bahwa langkah mitigasi teknis terus dimaksimalkan untuk melindungi fasilitas publik bernilai ekonomi tinggi tersebut.

"Lumpur tetap mengalir ke Kali Porong, hal itu dilakukan untuk menjaga infrastruktur, objek-objek vital baik itu permukiman, jalan raya, dan rel kereta api," terang Fahmi.

Baca Juga: Purbaya Ungkap Strategi Baru, Ekonomi Indonesia Ditargetkan Tumbuh hingga 6,5 Persen

Saat ini, PPLS secara intensif menggunakan kapal keruk dan pompa untuk mengalirkan lumpur. Alat berat ekskavator juga disiagakan untuk membuat alur khusus agar semburan lumpur terarah langsung menuju kolam pompa tanpa memberikan beban tambahan pada struktur tanggul penahan.

Di sisi lain, dampak ekonomi di tingkat mikro sudah sangat dirasakan oleh warga, khususnya di Desa Gempolsari. Sekitar 1.500 jiwa kini dihantui kerusakan properti akibat rembesan lumpur berbau pekat. Tidak hanya itu, warga juga dihadapkan pada krisis air bersih.

Air tanah di sekitar lokasi kini berbau dan memiliki kadar garam yang sangat tinggi, sehingga tidak layak konsumsi maupun untuk kebutuhan sehari-hari (MCK). 

Baca Juga: Raffi Ahmad dan Nagita Slavina Borong 61,85% Saham VISI Senilai Rp178 Miliar, Resmi Jadi Pengendali Baru

Kondisi ini memaksa warga mengeluarkan biaya ekstra setiap harinya untuk membeli air jeriken, menambah beban pengeluaran rumah tangga di tengah ancaman bencana yang belum mereda.

Warga setempat sangat menaruh harapan pada pengawasan ekstra dan penguatan tanggul yang berkesinambungan dari pihak berwenang. Tragedi amblesnya tanggul pada tahun 2018 menjadi pelajaran mahal yang diharapkan tidak kembali memukul sendi-sendi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Sidoarjo.

Baca Juga: Bukan Blokir NIK, Ini Penjelasan Pemkot Surabaya soal Ayah yang Menunggak Nafkah Anak

Editor : Hany Akasah
#infrastruktur #ekonomi #lumpur lapindo sidoarjo #sidoarjo