RADAR SURABAYA BISNIS - Penanganan masalah lingkungan kini tidak lagi sekadar menelan biaya, tetapi juga mampu menciptakan peluang ekonomi mikro bagi masyarakat.
Hal ini dibuktikan melalui peluncuran Program Pengelolaan Sampah Plastik Sungai di Surabaya, yang bertepatan dengan momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia.
Surabaya dipercaya menjadi lokasi percontohan nasional untuk program kolaboratif ini. Tidak main-main, setiap harinya sekitar satu ton sampah plastik berhasil diangkat dari kawasan Kali Tebu dan Kali Mrutu. Menariknya, dari kacamata bisnis dan ekonomi sirkular, tumpukan sampah ini tidak berujung di tempat pembuangan akhir begitu saja.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp18 Ribu, Masih Untung Investasi Valas Sekarang? Ini Kata Pakar
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya, Muhamad Fikser, mengungkapkan bahwa program ini merangkul warga sekitar untuk masuk ke dalam rantai ekonomi pengelolaan limbah.
"Bentuk kolaborasinya adalah menghambat sampah plastik dari sungai sebelum ke laut, pembersihan sungai, dan edukasi masyarakat. Dari hasil sampah yang diambil, dilakukan pemilahan dengan memanfaatkan warga lokal," jelas Fikser, Jumat (5/6/2026).
Sampah yang dikumpulkan tersebut kemudian menjadi sumber penghidupan baru. Fikser menambahkan bahwa warga mendapatkan pekerjaan melalui kolaborasi dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) seperti Ecoton dan Lojinawi.
Baca Juga: Kucurkan APBD dan APBN, Sidoarjo Targetkan Bedah Ratusan Rumah Tak Layak Huni pada 2026
"Ternyata warga juga bisa bekerja di Ecoton dan Lojinawi dan mereka mendapatkan manfaat ekonomi. Sampah disortir, di-packing, lalu dijual," tegas Fikser. Model bisnis komunal ini membuktikan bahwa pendekatan pemberdayaan masyarakat dapat menjadi solusi lingkungan yang berkelanjutan secara finansial.
Program yang berpotensi memutar roda ekonomi sirkular ini mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak, termasuk Pemerintah Pusat, UNDP Indonesia, sektor swasta, dan akademisi.
Ahmad Bahri Rambe, Koordinator Sekretariat Tim Penanganan Sampah Laut (TKN PSL), menjelaskan bahwa inisiatif ini adalah hasil kerja sama antara Pemerintah Indonesia, Pemerintah Uni Emirat Arab, dan UNDP sebagai implementing agency.
Baca Juga: Intip Teknologi Maritim Modern, Sekolah Singapura Kunjungi PT Terminal Teluk Lamong
"Surabaya menjadi kota pertama yang di-launching dan project ini sudah berjalan. Harapannya nanti Surabaya menjadi kota percontohan, sehingga semuanya bisa meniru apa yang sudah dilakukan Surabaya jika program ini sudah berhasil," pungkas Ahmad.
Dengan keberhasilan integrasi antara pelestarian lingkungan dan penciptaan lapangan kerja, Surabaya kini bersiap menjadi blueprint nasional bagi kota-kota lain seperti Sidoarjo, Bekasi, Surakarta, dan Bali dalam menerapkan ekonomi sirkular pengelolaan limbah perairan.
Baca Juga: Nilai Tukar Dolar AS Tembus Rp18.095, Keberadaan Money Changer di Gresik Terpantau Landai
Editor : Hany Akasah