radarsurabayabisnis.id - Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat inflasi tahunan (year-on-year/yoy) sebesar 3,49 persen pada Mei 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan April 2026 yang sebesar 2,85 persen dan jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat 1,22 persen.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS Jawa Timur, Herum Fajarwati, mengatakan inflasi tahunan Jawa Timur saat ini berada di atas rata-rata nasional yang tercatat sebesar 3,08 persen.
"Nasional hanya 3,08 persen," ujarnya, Selasa (2/6).
Baca Juga: Produksi Susu Jawa Timur Terbesar di Indonesia, Tapi Masih Akan Impor Ribuan Sapi Perah
Menurut Herum, kenaikan inflasi Jawa Timur terjadi karena seluruh kelompok pengeluaran mengalami peningkatan indeks harga dalam setahun terakhir. Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang terbesar, disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya serta kelompok transportasi.
BPS mencatat seluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur mengalami inflasi tahunan. Kabupaten Sumenep menjadi daerah dengan inflasi tertinggi mencapai 5,12 persen, sedangkan Kabupaten Tulungagung mencatat inflasi terendah sebesar 2,84 persen.
Sejumlah komoditas utama yang mendorong inflasi antara lain emas perhiasan, angkutan udara, cabai rawit, dan beras. Sementara itu, komoditas seperti bawang putih, kelapa, dan pisang berperan menahan laju kenaikan harga.
"Komoditas pendorong inflasi antara lain emas perhiasan, angkutan udara, cabai rawit, dan beras. Sementara penahan inflasi adalah bawang putih, kelapa, serta pisang," kata Herum.
Baca Juga: Surplus 44.800 Ton, Produksi Kopi Jawa Timur 2025 Masuk Empat Besar Nasional
Selain faktor musiman, inflasi juga dipengaruhi kenaikan biaya bahan baku industri impor dan meningkatnya harga produk berbahan plastik. Di sisi lain, harga sejumlah komoditas pangan masih mengalami gejolak akibat keterbatasan pasokan.
Meski demikian, pasokan protein hewani seperti daging ayam dan telur ayam ras relatif aman sehingga membantu menekan tekanan inflasi yang lebih tinggi.
"Sebaliknya, pasokan daging dan telur ayam ras cenderung tercukupi meskipun permintaan menurun," tambahnya.
Secara bulanan (month-to-month/mtm), inflasi Jawa Timur pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,28 persen. Kota Surabaya menjadi wilayah dengan inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,37 persen, sedangkan Kota Probolinggo mencatat inflasi terendah sebesar 0,03 persen.
Kelompok transportasi menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan dengan andil 0,11 persen, terutama akibat kenaikan harga tiket pesawat dan angkutan udara.
Meski inflasi Jawa Timur tergolong tinggi dibandingkan sejumlah provinsi lain di Pulau Jawa, Herum menegaskan angka 3,49 persen masih berada dalam rentang target inflasi nasional yang ditetapkan pemerintah sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen atau berada pada kisaran 1,5 hingga 3,5 persen.
"Masih aman, belum membuat tekanan daya beli masyarakat menjadi lebih berat," tegasnya.
Sementara itu, inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) Jawa Timur hingga Mei 2026 tercatat sebesar 1,43 persen. Angka tersebut dinilai masih relatif terkendali di tengah ketidakpastian ekonomi global dan dinamika geopolitik internasional yang memengaruhi harga berbagai komoditas.
BPS berharap pemerintah terus memperkuat kebijakan pengendalian inflasi, menjaga stabilitas pasokan pangan, serta mengantisipasi dampak gejolak global agar laju inflasi tetap terkendali dan daya beli masyarakat tetap terjaga.
Editor : Hany Akasah