RADAR SURABAYA BISNIS - Pemerintah Republik Indonesia tengah tancap gas dalam agenda transisi energi menuju emisi nol bersih.
Salah satu langkah paling ambisius saat ini adalah rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berskala nasional dengan total kapasitas terpasang mencapai 100 Gigawatt (GW) hingga tahun 2029.
Langkah ini tidak hanya bertujuan untuk memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga membuka peluang bisnis dan investasi energi terbarukan berskala besar di Tanah Air.
Baca Juga: Musim Umrah 1448 H Dibuka Lebih Awal, Ini Jadwal Krusial yang Wajib Dicatata
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, menegaskan bahwa upaya percepatan mega proyek ini sedang dilakukan, terutama dari sisi penyiapan regulasi dan ketersediaan lahan.
"Terkait dengan kelistrikan, kita berusaha untuk memperkuat sistem kelistrikan secara nasional, dan di antaranya adalah eksekusi arahan Presiden untuk PLTS 100 gigawatt. Kita akan lakukan percepatan dengan mempersiapkan basic regulasi dan segera mengeksekusi ketersediaan lahan," ujar Yuliot dalam keterangannya, Senin (1/6/2026).
Guna merealisasikan kebutuhan spasial proyek tersebut, Kementerian ESDM telah menjalin koordinasi intensif dengan Kementerian ATR/BPN.
Baca Juga: Optimalisasi Sukses! Kemenhaj Catat Peningkatan Pendapatan Bisnis Area Komersial Haji 2026
Hasil identifikasi awal menunjukkan adanya potensi sekitar 24.000 hektare (ha) lahan di Pulau Jawa yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan proyek PLTS ini.
Proyek raksasa kelistrikan ini akan dieksekusi secara bertahap. Pada fase awal, pemerintah menargetkan pembangunan PLTS berkapasitas 17 GW.
Untuk menjaga stabilitas pasokan daya dari sumber energi yang bersifat intermittent (bergantung pada cuaca) ini, proyek akan didukung oleh pembangunan fasilitas Battery Energy Storage System (BESS) berkapasitas sekitar 33 GW.
Khusus di tahun 2026, pemerintah optimistis dapat mengejar penambahan 17 GW dari energi terbarukan melalui PLTS skala nasional.
Penambahan kapasitas ini akan berjalan beriringan dengan program pensiun dini atau pengurangan penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD).
Rencana strategis ini merupakan respons atas arahan langsung Presiden Prabowo Subianto yang meminta adanya percepatan transisi menuju energi hijau.
Baca Juga: Danantara DSI Mulai Kelola Ekspor SDA, Uang Hasil Ekspor Bakal Kembali ke Indonesia
Dengan target 100 GW pada 2029, Indonesia bersiap mengurangi ketergantungan pada energi fosil sekaligus menciptakan ekosistem bisnis ramah lingkungan yang menjanjikan.
Editor : Hany Akasah