
Perputaran ekonomi Idul Adha 2026 tembus Rp26,89 triliun dari 1,9 juta rumah tangga.
RADAR SURABAYA BISNIS – Momen hari raya Idul Adha 2026 diproyeksikan menjadi katalisator kuat bagi pergerakan ekonomi nasional.
Berdasarkan riset Institute For Demographic and Poverty Studies (IDEAS) pada Mei 2026, perputaran uang dari ibadah kurban tahun ini diperkirakan menembus angka Rp26,89 triliun.
Tingginya potensi ekonomi tersebut didorong oleh proyeksi partisipasi masyarakat yang mencapai 1,90 juta rumah tangga. Dari total proyeksi nilai ekonomi tersebut, segmen pembelian sapi mendominasi dengan nilai mencapai Rp19,87 triliun, disusul oleh segmen pembelian kambing sebesar Rp7,02 triliun.
Baca Juga: Pemerintah Rilis Sapa UMKM, Kunci Akses Pembiayaan dan Legalitas Usaha
Secara geografis, Pulau Jawa masih menjadi pusat perputaran ekonomi kurban terbesar dengan estimasi kontribusi mencapai Rp21,42 triliun.
Wilayah lain yang juga mencatatkan potensi signifikan adalah Sumatera sebesar Rp2,57 triliun dan Sulawesi sebesar Rp1,34 triliun.
Merespons tingginya permintaan pasar, Kementerian Pertanian (Kementan) RI memastikan pasokan hewan kurban dalam kondisi aman dan surplus.
Baca Juga: Dibuka Lagi Juli, Ini Skema Lengkap Uang Saku Magang Nasional 2026 yang Setara UMK/UMP
Data Kementan per 13 Mei 2026 mencatat, ketersediaan sapi nasional mencapai 859,27 ribu ekor, melampaui angka proyeksi kebutuhan yang berada di level 791,45 ribu ekor.
Kondisi serupa terjadi pada komoditas kambing, di mana ketersediaan mencapai 1,40 juta ekor berbanding dengan kebutuhan sebesar 1,08 juta ekor.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menegaskan bahwa momentum Idul Adha bukan sekadar ritual ibadah, melainkan penggerak ekonomi kerakyatan.
Baca Juga: Pemerintah Beri Insentif Pajak Penulis 1,5 Persen dan Diskon Transportasi Berlaku Kuartal II 2026
"Hari raya Idul Adha menjadi momentum untuk penguatan ketahanan pangan, keberpihakan pada peternak lokal serta kehadiran nyata negara di tengah rakyatnya," ujar Agung.
Sebagai langkah antisipatif untuk menjaga nilai ekonomi dan kualitas ternak, pemerintah telah mengerahkan 8.633 petugas lapangan.
Ribuan petugas ini difokuskan untuk memeriksa kesehatan hewan, menjamin kelancaran distribusi ternak antardaerah agar stok merata hingga ke pelosok, serta meningkatkan pengawasan lalu lintas hewan ternak.
Baca Juga: Harga Sembako Surabaya, Gresik, Sidoarjo Rabu 27 Mei 2026, Daging Ayam dan Cabai Turun
Editor : Hany Akasah