RADAR SURABAYA BISNIS – Pemerintah pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mulai mematangkan rencana pembangunan Giant Sea Wall (GSW) atau Tanggul Laut Raksasa di lintas pantai utara (Pantura) Jawa Timur.
Proyek strategis ini diproyeksikan akan mengamankan titik ekonomi penting di kawasan Kabupaten Tuban, Gresik, dan Lamongan.
Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan, Didit Herdiawan Ashaf, menjelaskan bahwa saat ini proyek GSW sedang dalam tahap penelitian dan asesmen mendalam.
Baca Juga: Bukan 7 Juta? Ini Estimasi Nilai Subsidi Motor Listrik dan Konversi Terbaru dari Pemerintah
Berbeda dengan tanggul konvensional, GSW ini akan dibangun menjorok ke tengah laut demi efisiensi perlindungan wilayah pemukiman dan industri.
“GSW sedang dilaksanakan penelitian dan asesmen, seperti apa nanti dibangun di tengah laut sekitar 4 sampai 6 kilometer dari bibir pantai,” ujar Didit usai menemui Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jumat (24/4/2026).
Pemerintah menerapkan strategi perencanaan paralel untuk mempercepat pembangunan. Hal ini mencakup sinkronisasi antara program groundbreaking dan penyiapan infrastruktur pendukung agar dapat berjalan bersamaan setelah seluruh dokumen perencanaan rampung.
Baca Juga: Ekspedisi Rupiah Berdaulat Dimulai, BI Gandeng TNI AL Distribusi Uang Ke 97 Pulau Terluar
Langkah ini dinilai krusial bagi dunia bisnis dan logistik di Jawa Timur. Mengingat kawasan Pantura, khususnya Gresik dan Tuban, merupakan pusat industri berat dan pelabuhan, ancaman degradasi lingkungan menjadi risiko investasi yang nyata.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jatim, Isa Anshori, menambahkan bahwa urgensi pembangunan GSW ini didasari oleh tekanan lingkungan yang masif.
Penurunan muka tanah (land subsidence) di pesisir Pantura Jatim mencapai 1-20 sentimeter per tahun, ditambah kenaikan permukaan air laut yang mengancam operasional kawasan industri.
Baca Juga: Makkah Route di Bandara Juanda Bikin Proses Haji Super Cepat, Imigrasi Cuma 1 Menit per Jemaah
“Konsepnya nanti tidak semua berbentuk fisik seperti dinding penahan. Struktur bahannya bisa satu kilo kedalamannya 8 sampai 15 meter. Ada juga penggunaan mangrove untuk mempertahankan ekosistem,” jelas Isa.
Saat ini, Pemerintah Provinsi Jawa Timur masih menunggu detail perencanaan teknis dari pemerintah pusat sebelum melakukan sosialisasi kepada masyarakat pesisir, nelayan, serta pelaku usaha di wilayah terdampak.
Proyek Strategis Nasional (PSN) ini diharapkan tidak hanya menjadi benteng ekologi, tetapi juga menjamin keberlangsungan iklim usaha di koridor ekonomi utama Jawa Timur.
Baca Juga: Manfaatkan Teknologi RTC, PT Patra Logistik Pastikan Distribusi Energi Hingga Wilayah 3T
Editor : Hany Akasah