Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Eri Cahyadi Ubah Total Strategi Atasi Banjir Surabaya, Tidak Lagi Mengandalkan Pengerukan

Dimas Mahendra • Sabtu, 25 April 2026 | 08:19 WIB
CARA BARU: Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menjelaskan ganti pola lama penanganan banjir dengan rekayasa aliran air.
CARA BARU: Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menjelaskan ganti pola lama penanganan banjir dengan rekayasa aliran air.

radarsurabayabisnis.id - Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mulai melakukan perubahan besar dalam penanganan banjir di Kota Pahlawan. Tidak lagi mengandalkan pengerukan saluran atau perbaikan di titik genangan, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya kini menerapkan sistem rekayasa aliran air terpadu dari hulu hingga hilir.

Langkah strategis ini ditegaskan Eri saat melakukan inspeksi mendadak di kawasan Jalan Ketintang Madya, Jumat (24/4/2026). Ia menilai, penyebab utama banjir selama ini adalah penanganan yang masih parsial dan tidak menyentuh akar persoalan.

Baca Juga: Harga Sembako Surabaya, Gresik, Sidoarjo Hari Ini, Daging Kompak Turun

“Selama ini air menumpuk di satu titik. Sekarang kita ubah sistemnya, aliran air harus dibagi dan diarahkan,” tegasnya.

Dalam skema baru tersebut, aliran air dari kawasan Karah dan jalur tol akan dialihkan langsung menuju Rumah Pompa SWK Karah. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi beban saluran Avoer Wonorejo yang selama ini menjadi titik penumpukan air di wilayah Ketintang.

Selain itu, arah aliran air di kawasan Ketintang Baru juga akan dibalik menuju saluran Kebon Agung melalui kawasan Ahmad Yani. Dengan pola ini, wilayah seperti Margorejo hingga Prapen tidak lagi menjadi muara limpahan air dari berbagai daerah.

Baca Juga: Festival Rujak Uleg 2026 Surabaya Bertema “Rujakphoria”, Ajang Wisata dan UMKM

Sebagai penguatan infrastruktur, Pemkot juga merencanakan pembangunan rumah pompa baru di bantaran Kali Surabaya, tepatnya di kawasan Pulo Wonokromo. Fasilitas ini ditujukan untuk melindungi titik rawan banjir seperti sekitar Royal Plaza dan kawasan Telkom Ketintang.

“Saya sudah koordinasi untuk pembangunan pompa kecil agar air cepat ditarik ke sungai dan tidak menggenang,” ujar Eri.

Tak hanya fokus pada pembangunan fisik, Pemkot Surabaya juga akan mengembangkan sistem pemantauan berbasis digital. Melalui peta catchment area, masyarakat nantinya dapat memantau alur air sekaligus memahami sistem drainase di lingkungannya secara transparan.

Baca Juga: Voucher Parkir Surabaya Resmi Masuk Minimarket, Tarif Motor Rp2.000 dan Mobil Rp5.000 Tanpa Biaya Tambahan

“Semua harus terukur dan transparan. Tidak bisa lagi hanya keruk tanpa perhitungan,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Drainase DSDABM Surabaya, Adi Gunita, menjelaskan bahwa banjir di kawasan Ketintang, Gayungsari hingga Karah terjadi karena beban air yang selama ini terkonsentrasi dalam satu jalur.

Sebagai solusi, pihaknya akan melakukan pemecahan beban aliran dengan membuat sodetan baru ke arah selatan menuju Sungai Kebon Agung, sehingga distribusi air menjadi lebih merata.

“Kalau sebelumnya semua air lari ke timur, sekarang kita bagi ke selatan agar tidak menumpuk,” jelasnya.

Pemkot menargetkan seluruh proyek rekayasa aliran air ini rampung pada Oktober 2026. Bahkan, Eri menegaskan akan melakukan evaluasi serius jika target tersebut tidak tercapai dan banjir masih terjadi.

Dengan pendekatan baru ini, Surabaya tidak hanya menangani banjir secara jangka pendek, tetapi mulai membangun sistem pengendalian air yang modern, terintegrasi, dan berkelanjutan demi melindungi warganya di masa depan.

Editor : Hany Akasah
#banjir surabaya #Ery Cahyadi #banjir #pemkot surabaya