radarsurabayabisnis.id - Sistem penanggulangan kebakaran di Kota Surabaya ternyata memiliki sejarah panjang yang menarik. Jauh sebelum teknologi modern digunakan seperti sekarang, pemadaman api dilakukan dengan cara sederhana dan mengandalkan tenaga manusia serta gotong royong warga. Hal unik damkar Surabaya zaman dulu, pelapor kebakaran dapat hadiah.
Pustakawan Sejarah dari Universitas Ciputra Surabaya, Chrisyandi Tri Kartika, menjelaskan bahwa pada masa lalu alat pemadam yang digunakan masih berupa pompa manual. Alat tersebut harus dioperasikan dengan cara digenjot oleh banyak orang secara bersamaan.
Baca Juga: Lahan Sempit Jadi Sumber Cuan, Kisah Kampung Hidroponik Surabaya Berkembang Sejak Pandemi
“Dulu pengambilan air dilakukan secara manual oleh penduduk pribumi, jadi benar-benar mengandalkan tenaga manusia,” ujarnya.
Tak hanya itu, proses pemadaman juga melibatkan warga sekitar yang bahu-membahu mengambil air untuk memadamkan api. Sistem ini menjadi bukti kuatnya budaya gotong royong masyarakat Surabaya pada masa itu.
Seiring perkembangan zaman, teknologi mulai diperkenalkan. Mesin pemadam bertenaga uap mulai digunakan dan ditempatkan di titik-titik strategis kota. Sistem ini bahkan sudah diterapkan sejak masa pemerintahan Herman Willem Daendels pada tahun 1810.
Baca Juga: Dulu Jadi “Tameng Hidup”, Kini Arek Suroboyo Diminta Jaga Ruh Kota Surabaya
Kala itu, setiap pos pemadam diawasi oleh kepala regu yang telah ditunjuk. Menariknya, pasukan pemadam kebakaran terdiri dari gabungan orang Eropa dan pribumi dengan jumlah mencapai 1.540 orang. Mereka dikenal sebagai korps sukarelawan yang bertugas membantu penanggulangan kebakaran di kota.
Namun, sistem tersebut tidak bertahan lama. Memasuki tahun 1920, korps sukarelawan resmi dibubarkan dan digantikan dengan mesin pemadam kebakaran yang lebih modern yang didatangkan langsung dari Eropa.
Baca Juga: Ini Dia Sosok Jemaah Haji Termuda dan Tertua di Embarkasi Surabaya, dari 14 hingga 105 Tahun
Di balik keterbatasan teknologi pada masa itu, tantangan terbesar justru datang dari lambatnya penyebaran informasi. Petugas kerap terlambat tiba di lokasi karena tidak mengetahui adanya kebakaran.
Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah saat itu memiliki cara yang cukup unik. Mereka memberikan hadiah bagi siapa saja yang melaporkan kejadian kebakaran dengan cepat.
Langkah ini terbukti efektif untuk mempercepat respon dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penanggulangan bencana.
Kisah ini menjadi gambaran bagaimana sistem pemadam kebakaran di Surabaya terus berkembang, dari yang awalnya sangat sederhana hingga kini didukung teknologi modern. Lebih dari sekadar sejarah, perjalanan ini juga menunjukkan pentingnya kolaborasi antara teknologi dan peran masyarakat dalam menjaga keselamatan kota.
Editor : Hany Akasah