RADAR SURABAYA BISNIS – Invasi ikan sapu-sapu di perairan umum Indonesia kini bukan sekadar masalah lingkungan, melainkan telah menjadi ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi nelayan air tawar.
Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Gema Wahyu Dewantoro, mengungkapkan bahwa sifat invasif spesies ini merusak jaring nelayan dan mendominasi populasi, yang berdampak pada penurunan drastis hasil tangkapan ikan konsumsi bernilai jual tinggi.
"Ikan sapu-sapu merusak jaring nelayan dan melubangi pinggiran sungai atau danau. Pertumbuhannya yang cepat menggeser populasi ikan asli yang menjadi komoditas utama nelayan," ujar Gema dalam keterangannya, Rabu (15/4/2026).
Baca Juga: Stok Bahan Baku Tekstil Langka, RI Gandeng Malaysia Amankan Pasokan Nasional
Potensi Bisnis Pangan yang Tertutup
Meski populasinya melimpah, peluang bisnis pengolahan ikan sapu-sapu sebagai bahan pangan (seperti kerupuk atau siomay) dinilai sangat berisiko dari sisi keamanan produk.
Peneliti BRIN, Haryono, menegaskan bahwa daging ikan ini diduga kuat mengandung kontaminasi logam berat yang berbahaya bagi kesehatan manusia jika dikonsumsi dalam jangka panjang.
Kandungan bahan cemaran kimia ini membuat ikan sapu-sapu tidak layak masuk dalam rantai pasok industri makanan, sehingga pemanfataannya harus dialihkan ke sektor non-pangan untuk menghindari kerugian kesehatan publik.
Baca Juga: BI Catat Utang Luar Negeri RI Tembus Rp 7.488 Triliun, Tumbuh 2,5 Persen Secara Tahunan
Metode Pengendalian dan Potensi Industri Alternatif
Untuk menekan kerugian ekonomi nelayan, Pemprov DKI Jakarta telah melakukan aksi penangkapan massal. Namun, para ahli menyarankan agar limbah tangkapan ikan sapu-sapu ini dikelola secara industrial.
Misalnya sebagai bahan baku pupuk organik cair atau tepung ikan untuk pakan ternak non-pangan, guna memberikan nilai tambah ekonomi di tengah statusnya sebagai hama.
"Aksi ini patut dicontoh wilayah lain. Namun, pengendalian populasi perlu dilakukan secara intensif dan periodik agar ekosistem kembali seimbang dan ekonomi nelayan kembali pulih," pungkas Haryono.
Baca Juga: Dulu Jadi Tameng Hidup, Kini Arek Suroboyo Diminta Jaga Ruh Kota Surabaya
Editor : Hany Akasah