radarsurabayabisnis.id - Konsep mempertahankan kota di era modern kini memiliki makna yang berbeda jauh dibandingkan masa perjuangan tahun 1945. Tantangan sekarang pun tidak ringan.
Jika dahulu arek-arek Suroboyo rela membuka dada menjadi “tameng hidup” atau living shield melawan penjajah, kini makna pertahanan kota mengalami pergeseran yang lebih mendalam. Bukan lagi soal fisik semata, tetapi bagaimana menjaga jati diri dan semangat yang menjadi ruh peradaban Kota Surabaya.
Pegiat sejarah Surabaya, Nanang Purwono, menegaskan bahwa semangat heroik 10 November 1945 tidak boleh pudar, meskipun bentuk perjuangan telah berubah mengikuti zaman. Peristiwa bersejarah tersebut bukan hanya menjadi dasar lahirnya Hari Pahlawan, tetapi juga mencerminkan karakter asli masyarakat Surabaya yang berani dan pantang menyerah.
Menurut Nanang, pertahanan kota di era modern harus dimaknai sebagai upaya menjaga identitas dan budaya lokal. Ia menekankan bahwa pembangunan kota memang penting, tetapi harus diimbangi dengan pelestarian nilai-nilai budaya yang menjadi jiwa masyarakatnya.
Budaya arek, lanjutnya, merupakan elemen penting yang memberi ruh bagi Surabaya. Tanpa budaya tersebut, pembangunan fisik tidak akan memiliki makna yang utuh sebagai sebuah peradaban.
Ia juga menjelaskan bahwa penetapan Hari Pahlawan tidak lepas dari tindakan heroik masyarakat Surabaya di masa lalu. Keberanian mereka dalam mempertahankan kemerdekaan menjadi fondasi kuat yang membentuk karakter kota hingga saat ini.
Lebih jauh, Nanang menilai bahwa peristiwa 10 November 1945 bukanlah kejadian yang terjadi secara kebetulan. Peristiwa tersebut merupakan puncak dari semangat kemerdekaan yang telah lama tumbuh dan membara di hati para pejuang.
Semangat itulah yang akhirnya membuka mata dunia internasional bahwa rakyat Indonesia tidak akan tunduk pada penjajahan, baik oleh Belanda, Jepang, maupun kekuatan kolonial lainnya.
Kini, tantangan bagi generasi penerus bukan lagi mengangkat senjata, melainkan menjaga semangat kepahlawanan tersebut agar tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam mempertahankan identitas dan budaya khas Surabaya.
Editor : Hany Akasah