RADAR SURABAYA BISNIS - Fenomena job hugging kini tengah menjadi sorotan di dunia kerja, termasuk di kalangan anak muda.
Berbeda dengan tren job hopping atau sering berpindah kerja demi kenaikan gaji yang populer pada 2021 hingga 2022, job hugging adalah kecenderungan seseorang untuk tetap mempertahankan pekerjaan dalam jangka waktu lama meskipun merasa tidak berkembang dan tidak memperoleh kepuasan kerja.
Istilah ini pertama kali mencuat dalam laporan Glassdoor Worklife Trends 2025 yang menyebutkan bahwa dua dari tiga pekerja merasa terjebak dalam karier akibat kondisi pasar kerja yang lambat.
Tren ini diperkuat oleh survei ResumeBuilder.com pada Agustus 2025 di Amerika Serikat, yang menemukan bahwa sekitar 45 persen pekerja tergolong sebagai job huggers dengan alasan utama ketidakstabilan ekonomi negara.
Baca Juga: Rupiah Masih Tertekan di Awal Perdagangan, Sentimen Geopolitik Jadi Pemicu
Kondisi serupa pun saat ini terjadi di Indonesia. berdasarkan laporan Workplace Happiness Index mencatat bahwa hanya 37 persen pekerja Indonesia yang merasa puas dengan beban kerjanya, namun mayoritas memilih untuk tetap bertahan.
Fenomena ini nyata dialami oleh para pekerja yang memilih bertahan dengan pekerjaan saat ini meski dengan penghasilan yang pas-pasan, semata-mata karena kekhawatiran akan risiko dan ketidakpastian ekonomi yang lebih besar jika harus mencari peluang baru.
Ketakutan akan sulitnya mendapatkan pekerjaan pengganti, kebutuhan akan stabilitas finansial, hingga rasa cemas akan kemampuan beradaptasi di lingkungan baru menjadi pendorong utama mengapa banyak individu memilih "memeluk" pekerjaan lama mereka.
Menanggapi fenomena ini, dosen Pengantar Manajemen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Muslim Kamil, menilai bahwa job hugging tidak hanya dipicu oleh masalah ekonomi, tetapi juga faktor politik, kualitas sumber daya manusia, dan gaya hidup work-life balance generasi muda. Ia menjelaskan bahwa bagi sebagian pekerja, bertahan di pekerjaan saat ini dianggap sebagai langkah strategis menjaga kestabilan finansial.
Baca Juga: Ini 7 Komoditas Pangan Indonesia yang Tak Lagi Impor di 2026, Stok Beras Melimpah!
Namun, Kamil juga memperingatkan adanya sisi negatif, yakni risiko stagnasi karier dan terlewatkannya kesempatan baru akibat kekhawatiran yang berlebihan. Menurutnya, fenomena ini merupakan cerminan kondisi ekonomi negara yang sedang tidak sehat, sehingga pemerintah perlu mengambil peran, seperti menyediakan anggaran khusus untuk pelatihan kerja guna meningkatkan adaptabilitas pekerja.
Secara psikologis, job hugging yang dilakukan tanpa motivasi atau kepuasan kerja dalam jangka panjang dapat berisiko memicu burnout, menurunnya produktivitas, hingga masalah kesehatan mental.
Dampaknya pun dirasakan oleh perusahaan, di mana karyawan yang bertahan tanpa motivasi dapat menurunkan standar kualitas dan menghambat pencapaian target tim.
Oleh karena itu, para ahli menyarankan pentingnya refleksi diri secara berkala untuk membedakan antara loyalitas sehat dan rasa takut yang membelenggu.
Baca Juga: Kalahkan Bangkok, Jakarta Kini Jadi Kota Paling Aman Peringkat 2 di Asia Tenggara
Langkah preventif seperti terus meningkatkan keterampilan, membangun kepercayaan diri melalui pencatatan pencapaian, serta merencanakan perubahan karier secara bertahap dianggap sebagai solusi bijak untuk menyeimbangkan antara kebutuhan akan keamanan finansial dan pertumbuhan karier di masa depan. (nov/han)
Editor : Hany Akasah