Grogol Surabaya Ternyata Bekas Benteng Rahasia, Jejak Kota Pertahanan Sejak Abad ke-13

Rahmat Sudrajat • Dipublikasikan Jumat, 10 April 2026 | 17:24 WIB
BENTENG: Peta Surabaya tempo doeloe menurut Von Faber. (ist)
BENTENG: Peta Surabaya tempo doeloe menurut Von Faber. (ist)

radarsurabayabisnis.id - Tak banyak warga Surabaya yang tahu bahwa Kampung Grogol di kawasan Alun-Alun Contong, Kecamatan Genteng, ternyata menyimpan jejak sejarah penting. Berdasarkan peta kuno Von Faber, kawasan yang kini dikenal sebagai permukiman padat itu dulunya merupakan benteng dan wilayah pertahanan strategis Surabaya.

Lokasinya berada di antara Sungai Kalimas dan Sungai Pegirian. Posisi tersebut membuat Grogol menjadi kawasan yang sangat penting dalam sistem pertahanan Surabaya pada masa lampau.

Nama Grogol selama ini dikenal sebagai salah satu kampung tua di Surabaya. Namun di balik namanya, kawasan ini ternyata pernah menjadi bagian dari sistem pertahanan kota sejak ratusan tahun lalu.

Baca Juga: Kenaikan Harga Plastik Mulai Memukul Pelaku UMKM di Surabaya, Dilema Menaikkan Harga Produk

Pegiat sejarah Surabaya, Nanang Purwono, mengungkapkan bahwa Surabaya sejak awal memang dirancang sebagai kota benteng. Bahkan, konsep itu sudah ada sejak abad ke-13.

“Surabaya seperti diciptakan menjadi kota pertahanan. Karena itu, kota ini tidak pernah lepas dari ancaman maupun tantangan. Nama Surabaya sendiri bermakna berani menghadapi bahaya atau tantangan, Soera-ing-Baya,” ujarnya.

Menurut Nanang, Kampung Grogol berada di lokasi yang sangat strategis karena diapit dua aliran sungai, yakni Sungai Kalimas dan Sungai Pegirian. Pada masa lalu, sungai bukan hanya berfungsi sebagai jalur transportasi, tetapi juga menjadi benteng alami untuk melindungi kawasan penting.

Baca Juga: PT Smelting Buka Lowongan Smelter Engineer, Simak Syarat dan Cara Daftarnya

Kondisi ini mirip dengan kawasan Patjekan yang juga berada di antara percabangan sungai. Bedanya, nama Patjekan kini mulai hilang, sedangkan nama Grogol masih bertahan hingga sekarang.

Pada masa kerajaan, kawasan di sekitar Grogol menjadi jalur vital yang menghubungkan pusat pemerintahan dan perdagangan yang masih berada dalam pengaruh Kerajaan Majapahit. Karena itu, wilayah tersebut dijaga ketat.

Menariknya, jejak sistem pertahanan Surabaya juga masih bisa dilihat dari nama-nama kampung di sekitar Grogol.

Kawasan Ngemplak, misalnya, diyakini berasal dari makna lahan terbuka dan tandus. Lokasi seperti ini penting untuk memudahkan pengawasan terhadap orang yang datang dari luar.

Sementara itu, nama Jimerto disebut berasal dari kata “jibah” yang berarti wajib lapor dan “warta” yang berarti berita. Artinya, siapa pun yang hendak masuk ke wilayah Surabaya pada masa lalu harus melapor terlebih dahulu di pos penjagaan.

“Jadi tamu yang masuk ke Surabaya wajib lapor. Ini menunjukkan bahwa Surabaya sejak dulu memang memiliki sistem keamanan yang ketat,” kata Nanang.

Editor : Hany Akasah
Sumber : Radar Surabaya
grogol grogol surabaya kota lama sejarah Surabaya