Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Hilirisasi Nasional: Danantara Resmikan 6 Proyek Strategis Senilai Rp110 Triliun

Hany Akasah • Senin, 9 Februari 2026 | 09:48 WIB
CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani
CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani

RADAR SURABAYA BISNIS – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) secara resmi memulai babak baru dalam transformasi ekonomi Indonesia melalui peresmian groundbreaking enam proyek hilirisasi besar.

Dengan total investasi mencapai US$ 7 miliar atau setara Rp110 triliun, langkah ini menjadi bukti nyata ambisi pemerintah dalam memperkuat struktur ekonomi berbasis nilai tambah.

Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa proyek-proyek ini tidak hanya berfokus pada perputaran modal, tetapi juga dirancang untuk menciptakan dampak ekonomi berantai (multiplier effect) di 13 daerah yang menjadi lokasi operasional.

Baca Juga: 10 Ide Bisnis Mahasiswa 2026 Berbasis Skill: Minim Modal dan Anti Ganggu Kuliah!

Fokus pada Sektor Energi, Mineral, dan Ketahanan Pangan

Proyek-proyek yang diresmikan mencakup sektor-sektor krusial yang menjadi tulang punggung ekonomi masa depan. Menurut Rosan, kontribusi proyek hilirisasi terus menunjukkan tren positif.
Pada tahun 2025 saja, sektor ini menyumbang sekitar 30% dari total investasi yang masuk ke Indonesia, dengan nilai mencapai Rp584,1 triliun.

"Penyebaran investasi ini sekarang tidak lagi berpusat hanya di satu atau dua wilayah. Kami berupaya agar distribusi manfaat ekonomi merata dari Sumatera, Jawa, hingga ke wilayah Sulawesi dan Maluku," ujar Rosan dalam keterangannya, Sabtu (7/2/2026).

Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Terhadap Mata Uang Asing Hari Ini, Senin, 9 Februari 2026

Rincian 6 Proyek Strategis Danantara

Keenam proyek yang masuk dalam fase pertama ini melibatkan sinergi antar BUMN dan sektor swasta kelas dunia:

1. Smelter Aluminium Baru (Mempawah, Kalbar)

Dikelola oleh MIND ID, proyek ini mengolah bauksit menjadi aluminium dengan kapasitas 600.000 metrik ton per tahun. Investasi ini bertujuan meningkatkan nilai tambah mineral hingga 70 kali lipat dan diproyeksikan menyumbang cadangan devisa hingga Rp52 triliun per tahun melalui penguatan rantai pasok manufaktur domestik.

Baca Juga: Pemeritah Terapkan Teknologi Tunnel-SWRO di Indramayu, Petani Garam Bisa Produksi sepanjang Tahun

2. Pabrik Bioethanol Glenmore Fase 1 (Banyuwangi, Jatim)

Sinergi antara PTPN III dan Pertamina ini memproduksi bahan bakar nabati dengan kapasitas 100 KLPD. Proyek ini difokuskan pada diversifikasi bisnis perkebunan untuk memperkuat ketahanan energi nasional serta mengurangi ketergantungan pada impor BBM melalui pemanfaatan komoditas lokal.

3. Biorefinery Cilacap Fase 1 (Cilacap, Jawa Tengah)

Fasilitas milik Pertamina ini mengolah minyak jelantah menjadi Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau avtur hijau. Dengan kapasitas 6.000 barel per hari, proyek ini berkontribusi besar pada penurunan emisi karbon sekaligus menargetkan kontribusi PDB sebesar Rp199 triliun melalui inovasi energi ramah lingkungan.

4. Bioethanol Berbasis Tebu (Banyuwangi, Jatim)

Kolaborasi Pertamina NRE dan PT Sinergi Gula Nusantara ini fokus pada pengolahan tebu menjadi bioethanol berkapasitas 30 ribu KL per tahun. Proyek ini tidak hanya mendukung transisi energi, tetapi juga memberdayakan lebih dari 4.000 petani tebu lokal untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi daerah.

Baca Juga: UMKM Bisa Ekspor Fasilitasi 1.217 UMKM, Catat Transaksi USD 134,87 Juta

5. Pabrik Garam Olahan Segoromadu 2 (Gresik & Sampang, Jatim)

PT Garam mengoperasikan tiga fasilitas di Manyar, Segoromadu, dan Sampang dengan total kapasitas 380.000 ton per tahun. Menggunakan teknologi MVR, proyek ini bertujuan memenuhi kebutuhan garam industri nasional secara mandiri dan mengurangi ketergantungan impor melalui kemitraan strategis global.

6. Hilirisasi Poultry Terintegrasi (Malang & 5 Wilayah Lain)

Digarap oleh ID FOOD melalui PT Berdikari, proyek ini membangun ekosistem peternakan ayam modern yang terintegrasi di lahan seluas 5,6 hektar di Malang. Proyek serupa juga tersebar di lima provinsi lain untuk menjamin stabilitas pasokan protein hewani dan memperkuat kedaulatan pangan nasional.

Baca Juga: Apindo Ingatkan Tantangan Perekonomian Nasional di Fase setelah Triwulan I/2026

Visi Besar Presiden Prabowo Subianto

Proyek hilirisasi ini sejalan dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang menargetkan total 18 proyek strategis nasional dengan nilai investasi kumulatif Rp618 triliun. Visi ini diproyeksikan mampu membuka hingga 276.000 lapangan kerja berkualitas di seluruh penjuru negeri.

Selain hilirisasi sumber daya alam, Presiden juga memberikan perhatian khusus pada isu lingkungan. Pemerintah tengah menyiapkan proyek Waste to Energy atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di 34 titik kabupaten/kota dengan nilai investasi mencapai US$ 3,5 miliar.

"Kami memiliki kemampuan untuk itu. Hilirisasi adalah pokok yang harus segera dilaksanakan agar ekonomi kita tidak hanya tumbuh, tapi juga mandiri secara energi dan pangan," tegas Presiden Prabowo dalam forum koordinasi nasional baru-baru ini.

Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Stabil, Berikut Daftar Lengkapnya

Dampak Sosial dan Penyerapan Tenaga Kerja

Dari sisi sosial, enam proyek awal Danantara ini diperkirakan akan langsung menyerap sekitar 3.000 tenaga kerja.

Angka ini diharapkan terus tumbuh seiring dengan berkembangnya ekosistem industri di sekitar lokasi proyek, termasuk keterlibatan aktif pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) daerah sebagai mitra penyedia jasa dan logistik.

Dengan peresmian ini, Indonesia optimis mampu meningkatkan daya saing global melalui produk-produk olahan bernilai tinggi, sekaligus memperkokoh posisi sebagai pemain utama dalam rantai pasok industri dunia.

Editor : Hany Akasah
#pangan #rosan roeslani #proyek hilirisasi #energi #ekonomi indonesia #bpi danantara #swasembada air