Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Agus Gumiwang Sebut Arus Investasi Asing ke Manufaktur Kian Kuat

Nofilawati Anisa • Kamis, 27 November 2025 | 15:58 WIB

 

CEK: Industri logam menjadi salah satu perusahaan manufaktur yang semakin diminati investor asing.
CEK: Industri logam menjadi salah satu perusahaan manufaktur yang semakin diminati investor asing.

RADAR SURABAYA BISNIS - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan jika arus penanaman modal asing (PMA/FDI) semakin kuat mengarah ke industri manufaktur, seperti logam hingga elektronik yang menjadi bukti industrialisasi berjalan optimal.

"Data terbaru menunjukkan bahwa arus investasi asing kini semakin kuat mengarah ke industri manufaktur seperti logam, kimia, mesin dan elektronik. Ini membuktikan bahwa kebijakan industrialisasi yang dijalankan oleh Bapak Presiden Prabowo sudah berjalan pada jalur yang tepat dan semakin menarik minat investor global untuk berinvestasi di sektor manufaktur Indonesia,” kata Agus, Rabu (26/11).

Berdasarkan riset BRI Danareksa Sekuritas, peranan sektor industri manufaktur dalam perekonomian Indonesia semakin menguat di tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Riset tersebut mengungkapkan bahwa komposisi PMA ke sektor sekunder terus naik signifikan, dari 35,3 persen pada tahun 2018 menjadi 59,6 persen sepanjang Januari-September 2025.

Peningkatan ini sejalan dengan semakin matangnya ekosistem industrialisasi di Indonesia, yang membuktikan aktivitas nilai tambah tidak lagi bertumpu pada ekstraksi bahan mentah, melainkan pada pengolahan berbasis klaster industri di berbagai wilayah.

Agus menilai langkah strategis tersebut sebagai sinyal positif bagi perluasan dan pemerataan pusat pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

“Kita melihat percepatan industrialisasi di wilayah Sulawesi, Maluku, Kalimantan, dan wilayah lainnya. Pemerintah berkomitmen untuk terus menjaga momentum baik ini agar pemerataan pembangunan semakin optimal,” kata dia.

Menurut riset BRI Danareksa Sekuritas, setiap PMA senilai Rp 1 triliun di luar Jawa menghasilkan tambahan Penanaman Modal Tetap Bruto (PMTB) sekitar Rp 1,76 triliun.

Sebagai pembanding, PMA senilai Rp 1 triliun di Jawa hanya menghasilkan tambahan PMTB senilai Rp 140 miliar. “Ini multiplier effect yang sangat besar bagi ekonomi nasional terutama bagi wilayah luar pulau Jawa,” ujar Agus.

Laporan yang sama juga menyebutkan bahwa PMA di luar Jawa memberikan dampak pengganda yang lebih besar terhadap PMTB dibanding wilayah lainnya, karena kebutuhan modal yang lebih tinggi sekaligus percepatan pembangunan klaster industri baru di kawasan tersebut

Agus menegaskan bahwa pemerintah akan terus membangkitkan kepercayaan diri dari para pelaku industri dengan menciptakan iklim usaha yang kondusif.

“Kami memahami bahwa korporasi masih menunggu visibilitas permintaan yang lebih kuat. Itu sebabnya Kemenperin tengah menyiapkan berbagai insentif dan kemudahan industri agar ekspansi investasi bisa kembali meningkat dalam beberapa kuartal ke depan,” katanya lagi.

Dengan semakin kuatnya arus PMA ke sektor industri pengolahan dan berkembangnya pusat-pusat industri di luar Jawa, Agus menegaskan bahwa pemerintah akan meneruskan kebijakan yang mendukung iklim investasi yang sehat dan kompetitif.

“Kami berkomitmen memastikan bahwa Indonesia tetap menjadi tujuan utama investasi manufaktur di Asia. Transformasi industri, peningkatan kualitas tenaga kerja, dan pembangunan industri bernilai tambah tinggi akan terus menjadi prioritas pemerintah untuk memperkuat ekosistem industri hulu-intermediate-hilir,” kata dia. (nis/opi)

Editor : Nofilawati Anisa
#manufaktur #elektronik #industrialisasi #radar surabaya bisnis #menteri perindustrian #asing #logam #industri #investasi #Agus Gumiwan Kartasasmita #pma