Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Menteri Bahlil Sebut Butuh Rp 10.084 Triliun untuk Wujudkan Hilirisasi

Nofilawati Anisa • Rabu, 4 Juni 2025 | 00:28 WIB
SUMBER DAYA ALAM: Jadi tumpuan energi nasional, pemerintah mengembangkan tujuh skema hilirisasi batubara.
SUMBER DAYA ALAM: Jadi tumpuan energi nasional, pemerintah mengembangkan tujuh skema hilirisasi batubara.

RADAR SURABAYA BISNIS - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memproyeksikan kebutuhan investasi untuk merealisasikan proyek hilirisasi mencapai USD 618 miliar atau sekitar Rp 10.084 triliun (asumsi kurs Rp 16.313) hingga 2040.

"Kita sudah agendakan sampai 2040, kita membutuhkan kurang lebih USD 618 miliar ini data dari Pak Nurul Deputi di Kementerian Investasi," kata Bahlil dalam acara Human Capital Summit (HCS) 2025 di Jakarta, Selasa (3/6).

Menurut Bahlil, kebutuhan dana investasi tersebut tidak hanya untuk proyek hilirisasi di sektor mineral dan batu bara (minerba) serta minyak dan gas (migas). Namun juga mencakup hilirisasi di sektor pertanian dan perkebunan.

"USD 618 miliar dolar ini kita bangun hilirisasi tidak hanya migas dan batu bara, pertanian, perkebunan ini yang sedang ditakuti oleh negara lain. Makanya sekarang banyak LSM yang serang Indonesia terkait hilirisasi. Serang terkait nikel, serang terkait bauksit, timah karena mereka tahu ini," ujarnya.

Sebelumnya, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung berharap proyek hilirisasi dapat memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Khususnya bagi Indonesia dan mendorong nilai tambah di dalam negeri.

"Jadi untuk dampak ekonomi terhadap hilirisasi ini Kita mengharapkan akan terjadi investasi sekitar USD 618 miliar," kata Yuliot dalam Rapat Kerja bersama DPD RI, Senin (24/2).

Di samping itu, Yuliot membeberkan bahwa program hilirisasi ini juga berpotensi memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar USD 235,9 miliar dan terhadap ekspor hingga USD 857,9 miliar.

"Dimana sekitar 80 persen untuk hilirisasi ini adalah berasal dari mineral dan batu bara. Dan juga sekitar 10 persen itu dari migas. Jadi nanti ada kontribusi dari sektor lain, dari perkebunan, dari kelautan, dari perikanan, dari kehutanan," katanya.

Sementara itu, Institute for Development of Economics and Finance (Indef) dalam laporan Monitoring Issue of Food, Energy and Sustainable Development mengungkapkan bahwa sektor hilirisasi dan lifting gas mengalami lonjakan dan tumbuh positif pada kuartal I/2025.

Menurut paparan Kepala Pusat Pangan, Energi dan Pembangunan Berkelanjutan Indef, Abra Talattov, capaian lifting gas kuartal I/2025 tercatat sebesar 1.206 barrel oil per day (BOEPD) atau sekitar 120 persen dari target APBN.

“Kinerja positif pada sisi gas memberikan ruang fiskal yang lebih baik melalui PNBP,” tulis dia dalam laporannya.

Namun capaian ini perlu dijaga keberlanjutannya, termasuk dengan dukungan fiskal dan percepatan proyek strategis di sektor migas.Sementara di sektor mineral dan batu bara (minerba), hilirisasi juga mengalami percepatan.

Produksi bijih nikel oleh PT Aneka Tambang (Antam) Tbk melonjak 221 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal I/2025.

Kenaikan ini ditopang oleh optimalisasi kebutuhan bahan baku untuk smelter dalam negeri, sehingga menandakan bahwa proyek hilirisasi mulai menciptakan efek berganda ke sektor hulu.

Sementara itu, PT Amman Mineral Internasional (Amman) Tbk dan PT Freeport Indonesia mulai memasuki fase operasional smelter tembaga.

Meski masih dalam masa transisi, proyek-proyek ini menandai langkah penting dalam mewujudkan kemandirian industri logam dasar nasional, yang sebelumnya sangat bergantung pada ekspor mentah.

Kebijakan hilirisasi yang diadopsi pemerintah dalam beberapa tahun terakhir kini mulai menunjukkan arah yang lebih sistematis dan berdampak langsung. (nis/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#bauksit #minerba #mineral #proyek #menteri esdm #bahlil lahadalia #hilirisasi #nikel #batu bara #investasi