Konflik Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Mentah RI Tembus US$112,81 per Barel

Hany Akasah • Dipublikasikan Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:27 WIB
Fasilitas tangki penyimpanan (storage) minyak mentah yang menjadi fokus utama pemerintah untuk diperkuat kapasitasnya guna menjamin ketahanan energi dan stabilitas stok nasional.
Ketegangan geopolitik kerek Harga Minyak Mentah RI (ICP) September 2026 jadi US$112,81 per barel.

RADAR SURABAYA BISNIS – Ketegangan geopolitik yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah berdampak langsung pada pergerakan harga minyak mentah dunia. 

Imbasnya, Harga Minyak Mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) pada September 2026 mengalami lonjakan signifikan hingga mencapai US$112,81 per barel.

Angka ini mencatatkan kenaikan sebesar US23,38 dibandingkan pada bulan Agustus 2026 yang berada di level US89,43 per barel. Penetapan harga terbaru ini secara resmi tertuang dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 395.K/MG.03/MEM.M/2026 tentang Harga Minyak Mentah Indonesia Bulan September 2026.

Baca Juga: Realisasi Investasi Surabaya Capai Rp23,6 Triliun, Sektor Ini Jadi Primadona di 2026

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menjelaskan bahwa lonjakan ICP ini merupakan cerminan dari dinamika pasar global yang sedang tidak stabil. 

"Tingginya ketidakpastian geopolitik dan meningkatnya risiko gangguan pasokan (supply disruption risk) memicu kenaikan secara menyeluruh pada seluruh benchmark internasional," ujar Laode di Jakarta, Senin (12/10).

Laode merinci, eskalasi konflik militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran telah memicu kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran di Selat Hormuz, yang merupakan jalur ekspor minyak paling vital di dunia. 

Baca Juga: Sinergi Kementan dan Pemprov Jatim, Kucurkan Rp3,6 Triliun untuk Perkuat Lumbung Pangan Nasional

Kondisi ini diperparah dengan adanya serangan terhadap infrastruktur energi, termasuk penutupan sementara Pipa East-West Arab Saudi yang berkapasitas 7 juta barel per hari akibat serangan drone sebagai langkah pencegahan.

"Ekspor minyak mentah melalui rute vital tersebut sempat mengalami penurunan hingga 28 persen dibandingkan bulan Juli," tambah Laode. 

Faktor lain yang turut mendongkrak harga minyak meliputi penundaan kuota produksi oleh OPEC+ serta serangan lanjutan terhadap fasilitas minyak di Rusia dan kawasan Laut Merah.

Baca Juga: Perkuat Komitmen Lingkungan Pelabuhan, TPS Pembibitan 15 Ribu Bibit Mangrove untuk Pesisir Surabaya

Sejalan dengan naiknya ICP, harga minyak mentah utama dunia pada bulan September 2026 juga kompak meroket dibandingkan Agustus 2026:

Meski demikian, untuk periode Oktober 2026, pemerintah memproyeksikan ICP akan mulai melandai pada kisaran US98 hingga US103 per barel. 

Baca Juga: Ekspor Ekraf Indonesia Semester I 2026 Capai USD 14,75 Miliar, Fesyen Makin Mendominasi

Laode menegaskan, pemerintah bersama pihak terkait akan terus memantau pergerakan harga minyak dunia demi mengambil langkah strategis untuk menjaga ketahanan energi nasional dan stabilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Editor : Hany Akasah
Sumber : radar surabaya bisnis
minyak mentah harga icp energi kementerian esdm