radarsurabayabisnis.id – Cuaca panas ekstrem yang masih melanda Surabaya dan sekitarnya selama musim kemarau tidak hanya berdampak pada aktivitas masyarakat. Kondisi tersebut juga meningkatkan risiko heat stress atau stres panas pada ayam.
Risiko tersebut terutama terjadi pada unggas yang dipelihara di dalam kandang dengan ventilasi kurang optimal.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (FKH Unair) Prof Dr Rochmah Kurnijasanti mengatakan, ayam memiliki keterbatasan dalam mengatur suhu tubuh ketika berada dalam kondisi panas.
Baca Juga: Harga Pangan di Jawa Timur Hari Ini: Minyak Goreng dan Cabai Naik, Daging Sapi Serta Ayam Turun
“Ayam tidak punya mekanisme berkeringat seperti manusia. Ketika suhu kandang terlalu tinggi, ayam akan terengah-engah, membuka sayap, lebih banyak minum, dan mengurangi konsumsi pakan,” ujarnya kemarin (7/10).
Ayam Kurangi Makan saat Suhu Kandang Tinggi
Menurut Rochmah, perubahan perilaku tersebut perlu menjadi perhatian peternak karena penurunan konsumsi pakan secara langsung dapat memengaruhi pertumbuhan ayam.
Ketika konsumsi pakan berkurang, nutrisi yang masuk ke tubuh ayam ikut menurun. Pada saat yang sama, energi justru lebih banyak digunakan untuk mempertahankan suhu tubuh dan menjalankan fungsi fisiologis.
Baca Juga: Kementan Perketat Distribusi DOC Ayam Petelur, Lindungi Peternak Rakyat dari Monopoliu
Jika berlangsung dalam waktu lama, stres panas dapat menyebabkan pertambahan bobot badan melambat. Kondisi tersebut juga dapat membuat rasio konversi pakan memburuk dan mengganggu respons imun ayam.
Akibatnya, ternak menjadi lebih rentan terhadap berbagai penyakit.
“Pakan tersedia, tetapi tidak dapat dikonversi secara optimal menjadi pertumbuhan,” jelasnya.
Ventilasi Kandang Jadi Kunci
Rochmah menilai manajemen kandang menjadi salah satu kunci untuk menghadapi kondisi cuaca panas.
Peternak perlu memastikan sirkulasi udara atau ventilasi berjalan dengan baik. Ketersediaan air minum dalam jumlah cukup juga harus diperhatikan.
Selain itu, kepadatan ayam di dalam kandang perlu dijaga agar tidak terlalu tinggi. Pemberian pakan dapat diatur pada waktu yang lebih sejuk untuk mengurangi beban panas pada ternak.
Kebersihan kandang juga perlu dijaga. Peternak disarankan melakukan pemantauan secara rutin terhadap gejala stres panas agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
Jagung Jatim Surplus, Kesehatan Ayam Tetap Penting
Di sisi lain, ketersediaan bahan baku pakan tetap menjadi faktor penting bagi keberlangsungan industri unggas.
Produksi jagung Jawa Timur pada Januari hingga Oktober 2026 diproyeksikan mencapai sekitar 3,71 juta ton dengan kadar air 14 persen.
Namun, Rochmah mengingatkan bahwa surplus bahan baku pakan belum cukup untuk menjamin produktivitas unggas apabila kesehatan ternak tidak dijaga.
“Jagung surplus adalah kabar baik, tetapi ayam yang terus-menerus mengalami stres panas tetap akan kehilangan efisiensi,” katanya.
Karena itu, di tengah cuaca panas yang masih berlangsung, peternak tidak hanya perlu memastikan ketersediaan pakan, tetapi juga menjaga kondisi kandang dan kesehatan ayam agar produktivitas tetap optimal.
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Surabaya