radarsurabayabisnis.id – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Jawa Timur meningkat signifikan sepanjang 2026. Dinas Kesehatan (Dinkes) Jatim mencatat rata-rata kasus ISPA mencapai 151.750 kasus per bulan hingga September 2026.
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata kasus bulanan pada 2025 yang berada di kisaran 111.393 kasus.
Bahkan, pada Agustus 2026 jumlah laporan kasus ISPA di Jawa Timur mencapai 212.914 kasus. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dalam periode Januari hingga September 2026.
Baca Juga: Menkes Jamin Harga Obat BPJS Tak Naik di Tengah Fluktuasi Rupiah, Non BPJS Maksimal Naik 20 Persen
Kepala Dinkes Jatim dr Erwin Astha Triyono mengatakan, peningkatan kasus ISPA menjadi perhatian karena terjadi di tengah kondisi musim kemarau dengan curah hujan yang relatif rendah.
Agustus Jadi Bulan dengan Kasus ISPA Tertinggi
Berdasarkan pemantauan Dinkes Jatim hingga September 2026, jumlah laporan ISPA menunjukkan tren peningkatan dibandingkan rata-rata bulanan pada tahun sebelumnya.
Rata-rata kasus bulanan pada 2026 mencapai 151.750 kasus, sedangkan pada 2025 berada di kisaran 111.393 kasus.
Baca Juga: Harga Cabai Rawit di Pasar Surabaya Melonjak, dari Rp30 Ribu Jadi Rp70 Ribu per Kg
"ISPA merupakan infeksi pada saluran pernapasan yang dapat disebabkan berbagai agen infeksi, seperti virus, bakteri, maupun kuman lainnya," kata Erwin, Senin (5/10).
ISPA dapat menimbulkan sejumlah gejala yang cukup umum, seperti demam akut, batuk, sakit tenggorokan dan pilek.
Penularannya dapat terjadi melalui udara yang mengandung droplet ketika seseorang batuk atau bersin. Penularan juga bisa terjadi melalui kontak langsung dengan permukaan yang telah terkontaminasi.
Kemarau Disebut Ikut Memengaruhi
Erwin menjelaskan, kondisi musim kemarau menjadi salah satu faktor yang berpotensi memengaruhi peningkatan kasus ISPA di Jawa Timur.
Curah hujan yang rendah menyebabkan proses pencucian polutan di udara atau rain washing berkurang. Akibatnya, kondisi udara dapat lebih mudah dipengaruhi oleh keberadaan polutan.
Selain itu, udara yang panas dan relatif kering dapat memengaruhi stabilitas aerosol serta pertahanan mukosa saluran pernapasan.
Kondisi tersebut berpotensi mendukung transmisi virus penyebab infeksi saluran pernapasan.
Surabaya Masuk 5 Daerah dengan Kasus Tertinggi
Dinkes Jatim juga mencatat lima daerah dengan laporan kasus ISPA tertinggi selama periode Januari-September 2026.
Kelima daerah tersebut adalah Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Lamongan, Kota Malang dan Kabupaten Malang.
Tingginya laporan kasus di sejumlah wilayah tersebut menjadi perhatian karena ISPA dapat menyerang berbagai kelompok usia.
Erwin mengingatkan masyarakat tidak menganggap semua kasus ISPA sebagai penyakit ringan.
Sebagian besar ISPA, terutama yang disebabkan virus, memang dapat sembuh dengan sendirinya atau bersifat self-limiting. Namun, terdapat kelompok masyarakat yang memiliki risiko mengalami kondisi lebih berat.
"Kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih adalah balita, lansia, dan orang dengan penyakit penyerta," jelasnya.
Kenali Gejala dan Jangan Abaikan Jika Memburuk
Penanganan ISPA pada dasarnya ditujukan untuk meredakan gejala sekaligus mendukung proses pemulihan.
Masyarakat dianjurkan cukup beristirahat, mengonsumsi makanan bergizi, memperbanyak minum, menjaga kebersihan diri serta menghindari paparan asap rokok.
ISPA akut umumnya berlangsung kurang dari 14 hari. Jika keluhan tidak kunjung membaik atau kondisi semakin berat, masyarakat diminta segera melakukan pemeriksaan medis.
Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui penyebab penyakit sekaligus mendapatkan penanganan yang sesuai.
Dengan meningkatnya kasus ISPA di tengah musim kemarau, masyarakat di Jawa Timur diimbau lebih memperhatikan kondisi kesehatan, terutama kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi.
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Surabaya