Tembus 43,89 Juta Ton! BPS Catat Produksi Padi 2026 Naik Meski Dihantam El Nino

Hany Akasah • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 16:50 WIB
Mentan Amran tinjau langsung panen padi menggunakan combine harvester untuk dukung petani.
Mentan Amran tinjau langsung panen padi menggunakan combine harvester untuk dukung petani.

RADAR SURABAYA BISNIS – Sektor pertanian nasional menunjukkan resiliensi yang luar biasa sepanjang delapan bulan pertama tahun 2026. 

Badan Pusat Statistik (BPS) resmi merilis angka tetap yang mencatat produksi padi dari Januari hingga Agustus 2026 berhasil mencapai 43,89 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). 

Angka ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 0,07 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025, meskipun sektor pertanian tengah menghadapi tekanan cuaca ekstrem dan potensi El Nino.

Baca Juga: Harga Cabai Rawit di Pasar Surabaya Melonjak, dari Rp30 Ribu Jadi Rp70 Ribu per Kg

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menegaskan bahwa capaian tersebut merupakan angka tetap yang dihitung berdasarkan realisasi luas panen dan produktivitas di lapangan. 

"Produksi padi dari Januari sampai dengan Agustus 2026 mencapai 43,89 juta ton GKG atau naik 0,07 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2025," ujar Ateng saat penyampaian Rilis BPS, Kamis (1/10/2026).

Pertumbuhan produksi ini berbanding lurus dengan perluasan area panen. BPS mencatat luas panen padi pada periode tersebut mencapai 8,32 juta hektare, meningkat 0,11 persen dari tahun sebelumnya. 

Baca Juga: Lelang BBM Sepi, Pemerintah Berburu BBM ke Negara Lain demi Jaga Stok Nasional 20 Hari

Peningkatan ini juga berdampak positif pada ketersediaan beras untuk konsumsi masyarakat, yang tercatat mencapai 25,29 juta ton (naik 0,07 persen).

Tetap tumbuhnya produksi padi di tengah ancaman kekeringan tidak lepas dari langkah mitigasi agresif yang digarap pemerintah. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memastikan bahwa pemerintah tidak akan membiarkan petani berjuang sendirian melawan dampak iklim. 

Penguatan pengelolaan air, khususnya optimalisasi pompanisasi di wilayah dengan keterbatasan air, menjadi fokus utama untuk mempertahankan aktivitas produksi.

Baca Juga: Perkuat Layanan Lewat Zona EAZI dan Digitalisasi BESTI, TTL Pacu Daya Saing Pelabuhan Tanjung Perak

"Kami turun, pasang pompa-pompa, kita tidak boleh menyerah. Kita tidak boleh membiarkan petani jalan sendiri, kita harus turun tangan," tegas Mentan Amran.

Terkait proyeksi ke depan, Ateng menjelaskan bahwa data produksi untuk periode September hingga November 2026 masih berstatus angka potensi. 

Angka ini dapat berubah mengikuti kondisi pertanaman di lapangan, mengingat faktor cuaca, serangan hama, banjir, hingga kekeringan masih menjadi variabel penentu.

Baca Juga: Perkuat Pertahanan Negara, Presiden Prabowo Resmikan 204 Satuan Baru dan 6 Kodam di HUT ke-81 TNI

Berdasarkan hasil Kerangka Sampel Area (KSA) Agustus 2026, sejumlah sentra pertanian diproyeksikan masih memiliki potensi panen yang kuat. Di Pulau Jawa, wilayah seperti Majalengka, Subang, Indramayu, Karawang, Cirebon, Bekasi, hingga Ngawi di Jawa Timur siap menyumbang pasokan. 

Sementara di luar Jawa, potensi panen tersebar di Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara, hingga Sulawesi yang mencakup kawasan Bone, Wajo, Sidrap, Pinrang, Luwu, dan Banggai.

Pemerintah akan terus memperkuat langkah pendampingan dan mitigasi demi menjaga produktivitas padi nasional hingga tutup tahun 2026.

Baca Juga: Terminal Teluk Lamong dukung sekolah berbudaya lingkungan lewat edukasi pemilahan sampah

Editor : Hany Akasah
Sumber : radar surabaya bisnis
amran sulaiman bps el nino kementan produksi padi