radarsurabayabisnis.id - Perayaan Kue Bulan atau Mooncake Festival 2026 di Sanggar Agung, Kenjeran, Surabaya, berlangsung meriah. Ratusan warga Tionghoa dari Surabaya Raya hingga berbagai kota di Jawa Timur memadati kawasan kelenteng yang berada tepat di pesisir Pantai Kenjeran.
Perayaan yang digelar selama tiga hari berturut-turut tersebut menghadirkan beragam kegiatan bernuansa seni dan budaya Tionghoa.
Suasana semakin semarak dengan pelataran Sanggar Agung yang dihiasi aneka lentera. Kawasan tersebut menjadi tempat berkumpul warga untuk menikmati rangkaian acara Festival Bulan Purnama.
Baca Juga: Bangunan Berusia 100 Tahun di Surabaya, Kini Disulap Jadi Tempat Nongkrong
Tidak hanya warga Surabaya dan sekitarnya, sejumlah pengunjung juga datang dari berbagai daerah di Jawa Timur. Mereka mengikuti prosesi dan kegiatan keagamaan sekaligus menikmati bazar kuliner, pertunjukan seni, serta berbagai hiburan yang disiapkan panitia.
Dari Bazaar Purnama hingga Lentera Apung
Rangkaian acara dimulai sejak pagi melalui Bazaar Purnama pada pukul 08.00. Pengunjung kemudian dapat mengikuti kegiatan Pohon Harapan pada pukul 11.00.
Menjelang sore, suasana semakin menarik dengan kegiatan Lentera Apung yang dimulai pukul 17.00.
Baca Juga: Dongkrak Ekonomi Lokal, Pemkot Surabaya Wajibkan Setiap Penyelenggara Event Libatkan UMKM
Kemeriahan mencapai puncaknya saat Moonlight Show yang dimulai pukul 18.00. Berbagai penampilan seni dan hiburan disuguhkan untuk menghibur pengunjung.
Sejumlah penampil yang hadir antara lain Eric San Two-faced Singer, Dr. Ivan Saputra, serta tari dan lagu dari RS Adi Husada Kapasari.
Pertunjukan Ksatria Barongsai dan Thomas Line Dance juga ikut membuat suasana festival semakin meriah.
Acara tersebut dipandu MC Chris Rho dan Sisca Romana. Malam perayaan kemudian ditutup dengan kegiatan Balon Harapan pada pukul 20.00.
Generasi Muda Ikut Menikmati Mooncake Festival
Salah seorang yang turut menghadiri perayaan tersebut adalah Vajra Yeshi Kusala, Cici Berbakat Jatim 2024.
Gadis yang baru menyelesaikan pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra Surabaya itu tampak menikmati suasana festival. Ia juga mencicipi berbagai kuliner khas Tionghoa yang dijajakan selama acara.
“Luar biasa meriah. Ini menunjukkan bahwa seni dan budaya Tionghoa terus berkembang di Surabaya, termasuk di kalangan anak muda,” katanya.
Kehadiran generasi muda dalam perayaan tersebut menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Festival tidak hanya menjadi ruang untuk menjalankan tradisi, tetapi juga menjadi tempat bagi anak muda untuk mengenal dan menikmati seni serta budaya Tionghoa.
Lentera dan Pesisir Kenjeran Jadi Daya Tarik
Keunikan perayaan tahun ini semakin terasa karena Sanggar Agung berada di kawasan pesisir dan dikelilingi hutan mangrove.
Perpaduan lingkungan pesisir, bangunan kelenteng, cahaya lentera, pertunjukan seni, serta kuliner khas Tionghoa menciptakan suasana berbeda yang menarik perhatian pengunjung.
Ketika malam tiba, cahaya lentera yang menghiasi kawasan Sanggar Agung membuat suasana Festival Bulan Purnama semakin terasa.
Antusiasme warga, khususnya generasi muda, menjadi gambaran bahwa perayaan budaya Tionghoa tetap mendapat tempat di tengah masyarakat Surabaya.
“Festival tersebut sekaligus menjadi ruang berkumpul dan memperkenalkan kekayaan seni serta tradisi Tionghoa kepada masyarakat luas,” kata Yeshi.
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Surabaya