Krisis Listrik Hijau Bayangi Dunia, RI Tawarkan Pasokan EBT Melimpah untuk Industri Data Center

Hany Akasah • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 12:03 WIB
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia membuka Electricity Connect 2026 di ICE BSD, Tangerang, Selasa (22/9).
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia membuka Electricity Connect 2026 di ICE BSD, Tangerang, Selasa (22/9).

RADAR SURABAYA BISNIS – Pemerintah Indonesia membuka peluang investasi pembangunan pusat data (data center) berskala global dengan mengandalkan potensi energi baru terbarukan (EBT) di dalam negeri. 

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa ketersediaan sumber energi bersih menjadi nilai tawar utama Indonesia di tengah meningkatnya kebutuhan listrik industri digital dunia.

Ajakan investasi tersebut disampaikan Bahlil saat membuka forum Electricity Connect 2026 in Partnership with Enlit Asia di ICE BSD, Tangerang, Banten, Selasa (22/9/2026). 

Baca Juga: Jadi Incaran Kolektor, BI Cetak Lagi Rupiah Bertanda Tangan Purbaya-Perry

Acara yang mengusung tema "Powering Regional Sovereignty, Securing Energy Systems Resilience" ini dihadiri oleh ribuan delegasi, pelaku usaha, investor, serta akademisi dari dalam dan luar negeri.

Menurut Bahlil, sejumlah negara saat ini mulai mengalami tekanan pasokan energi, khususnya EBT, akibat pesatnya ekspansi infrastruktur digital. 

Kondisi tersebut dinilai menjadi momentum bagi Indonesia untuk menawarkan potensi sumber daya energi domestik kepada para penanam modal.

Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.905 per Dolar AS, Volatilitas Pasar Valas Berlanjut

"Kita tahu bahwa di beberapa negara sekarang kebutuhan terhadap energi sudah mulai ngos-ngosan, apalagi energi baru terbarukan. Data center, wah, ini banyak sekali. Bapak-Ibu semua, tidak perlu ragu para investor kalau membangun data center di Indonesia," ujar Bahlil di hadapan peserta forum.

Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia tercatat memiliki ragam sumber energi bersih mulai dari tenaga air, surya, angin, hingga panas bumi. 

Bahlil merinci dua proyek potensial Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berkapasitas besar yang dapat menyuplai kebutuhan industri di luar Pulau Jawa, yakni PLTA Sungai Mamberamo di Papua dan PLTA Sungai Kayan di Kalimantan.

Baca Juga: Industri Padat Karya Mulai Bangkit, 14 dari 15 Subsektor Tumbuh Positif

"Ada yang membangun di Kalimantan, ada yang membangun di Sumatera. Kalau ada yang mau air, PLTA di Papua, Sungai Mamberamo itu potensinya 23 gigawatt. Kalau di Kalimantan, di Kayan, kurang lebih sekitar 12 gigawatt. Banyak sekali," kata Bahlil menjelaskan.

Ketersediaan energi ramah lingkungan kini menjadi syarat mutlak bagi korporasi teknologi global yang mengoperasikan pusat data. Untuk menjawab kebutuhan tersebut sekaligus mengejar target emisi nol bersih (Net Zero Emission/NZE) pada 2050–2060, pemerintah telah menyusun peta jalan transisi energi melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.

Dalam rencana sepuluh tahun tersebut, pemerintah menargetkan penambahan kapasitas pembangkit listrik sebesar 69,5 GW. Dari total tambahan kapasitas itu, sebanyak 70 persen di antaranya dialokasikan berasal dari pembangkit berbasis EBT. 

Baca Juga: Refleksi Hari Tani Nasional 2026: Ning Lia Dorong Reforma Agraria untuk Berdayakan Petani

Selain itu, pemerintah juga tengah menggulirkan program pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 GW yang ditargetkan selesai dalam kurun waktu tiga tahun.

"Ini bukan hanya tema, langsung dibuat program konkret," tegasnya.

Di samping kesiapan infrastruktur energi hijau, Bahlil menilai fundamental makroekonomi Indonesia turut mendukung iklim investasi jangka panjang. 

Pada kuartal II-2026, perekonomian nasional tercatat tumbuh di atas 5 persen dengan tingkat inflasi yang terjaga di kisaran 3 persen di tengah dinamika geopolitik global.

Baca Juga: Wacana PPHN Mengemuka, Senator Jatim Ning Lia Ingatkan Nasib Proyek Strategis Nasional

Jumlah populasi Indonesia yang mendekati 300 juta jiwa juga diproyeksikan terus mendorong lonjakan trafik layanan digital dan konsumsi energi di tingkat domestik. 

Pemerintah berharap integrasi antara pengembangan EBT dan masuknya investasi pusat data dapat memperkuat keandalan, keterjangkauan, serta kebersihan sistem kelistrikan nasional.

"Kalau mau investasi, ini momennya sekarang. Ini timing yang pas. Sekarang jangan tanya sumber daya alam, tapi saya tanya kepada Bapak-Ibu semua, apakah serius atau tidak untuk melakukan investasi di Indonesia?" tutup Bahlil.

Baca Juga: Kemendikdasmen Bakal Buka 139 Ribu Formasi CPNS Guru Tahun Depan, Fresh Graduate Boleh Mendaftar

Editor : Hany Akasah
Sumber : radar surabaya bisnis
data center bahlil lahadalia energi baru terbarukan (EBT) plta investor