Industri Padat Karya Mulai Bangkit, 14 dari 15 Subsektor Tumbuh Positif

Hany Akasah • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 19:08 WIB
Pertumbuhan satu persen di sektor pdatkarya dinilai mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja dibandingkan pertumbuhan yang sama pada industri padat modal.
Pertumbuhan satu persen di sektor pdatkarya dinilai mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja dibandingkan pertumbuhan yang sama pada industri padat modal.

radarsurabayabisnis.id - Industri padat karya nasional menunjukkan tanda-tanda kebangkitan pada triwulan II-2026. Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut 14 dari 15 subsektor industri mencatat pertumbuhan positif.

Sejumlah industri yang banyak menyerap tenaga kerja bahkan mencatat pertumbuhan cukup tinggi. Furnitur tumbuh 11,8 persen, alas kaki dan kulit 11,3 persen, makanan dan minuman 6,5 persen, serta tekstil dan pakaian jadi 6,4 persen.

Dalam ANTARA Business Forum (ABF) 2026 di Jakarta, Rabu, Agus mengatakan perkembangan tersebut menjadi sinyal kebangkitan industri padat karya setelah sebelumnya banyak mendapat sorotan akibat pemutusan hubungan kerja (PHK).

Baca Juga: Kementan Siapkan 2 Juta Hektare Lahan untuk Industri Bioetanol Nasional, 8 Juta Lapangan Kerja Menan

“Ini industri padat karya yang sekitar dua tahun lalu banyak diberitakan sedang melakukan PHK. Hari ini, berdasarkan data kami, sektor-sektor tersebut justru sedang bangkit kembali,” ujarnya.

Industri Padat Karya Jadi Motor Pertumbuhan

Menurut Agus, pertumbuhan industri padat karya memiliki dampak besar terhadap penyerapan tenaga kerja. Pertumbuhan satu persen di sektor tersebut dinilai mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja dibandingkan pertumbuhan yang sama pada industri padat modal.

Baca Juga: Investasi Rp88,1 Triliun dari China Bidik Industri hingga Lapangan Kerja Baru

“Pertumbuhan di sektor ini adalah pertumbuhan yang langsung dirasakan oleh masyarakat,” ujarnya lagi.

Meski mayoritas subsektor mencatat pertumbuhan positif, masih terdapat industri yang mengalami tekanan. Subsektor karet, barang dari karet, dan plastik mengalami kontraksi sebesar 7 persen.

Sementara itu, industri logam dasar, kertas, serta pengolahan tembakau mencatat pertumbuhan yang relatif rendah.

Nilai Tambah Manufaktur Indonesia Tembus USD275,61 Miliar

Di sisi lain, data Bank Dunia menunjukkan nilai tambah manufaktur Indonesia pada 2025 mencapai 275,61 miliar dolar AS. Angka tersebut menempatkan Indonesia di peringkat ke-12 dunia.

Indonesia juga tercatat sebagai negara dengan nilai tambah manufaktur terbesar di Asia Tenggara. Nilainya sekitar dua kali lipat Thailand yang mencapai 137 miliar dolar AS dan lebih dari dua kali Vietnam.

Kontribusi industri terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional juga terus meningkat selama empat tahun berturut-turut. Kontribusinya naik dari 18,34 persen, 18,67 persen, 18,98 persen, hingga mencapai 19,07 persen pada 2025.

“Jadi, ketika banyak negara sedang kehilangan industrinya, Indonesia sedang membangun kembali industrinya. Ini modal besar,” ujarnya.

Pasar Domestik Jadi Kekuatan Industri Nasional

Agus menambahkan, pasar domestik menjadi salah satu modal penting bagi pengembangan industri nasional.

Indonesia memiliki 287,2 juta penduduk dengan konsumsi rumah tangga mencapai Rp12.834,8 triliun per tahun. Besarnya pasar tersebut menjadi penopang bagi industri manufaktur dalam negeri.

Sebanyak 78,39 persen produk manufaktur nasional juga dijual di pasar domestik.

Kondisi tersebut menunjukkan besarnya peran konsumsi dalam negeri terhadap keberlangsungan industri nasional, termasuk subsektor padat karya yang memiliki kontribusi besar terhadap penyerapan tenaga kerja.

Editor : Hany Akasah
Sumber : Radar Surabaya
industri padat karya 2026 industri manufaktur Indonesia PHK industri industri furnitur industri tekstil