Tinggalkan Berburu, Warga Kalimantan Barat Kini Dapat Cuan dari Foto Satwa Liar

Hany Akasah • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 19:03 WIB
Warga di Kapuas Hulu, Kalbar, mendokumentasikan satwa liar menggunakan ponsel. Melalui aplikasi KehatiKu, hasil foto satwa liar ini ditukar menjadi penghasilan tambahan
Warga di Kapuas Hulu, Kalbar, mendokumentasikan satwa liar menggunakan ponsel. Melalui aplikasi KehatiKu, hasil foto satwa liar ini ditukar menjadi penghasilan tambahan

RADAR SURABAYA BISNIS – Sebanyak 950 warga dari sembilan desa di Kalimantan Barat kini mendapat penghasilan tambahan dengan memotret satwa liar, bukan lagi menangkap atau memburunya.

Melalui aplikasi bernama KehatiKu, warga bisa mengunggah foto, video, atau rekaman suara satwa yang mereka temui, dan mendapat imbalan setelah hasilnya diverifikasi.

Program ini dikembangkan Borneo Futures, perusahaan konsultasi sains dan teknologi konservasi yang berbasis di Brunei Darussalam, melalui pendekatan citizen science atau sains warga untuk mengumpulkan data keanekaragaman hayati.

Baca Juga: ESDM Ungkap Rencana Bensin dari Batu Bara, Tiru Jerman dan Afrika Selatan 

Warga berperan sebagai pengamat dengan memanfaatkan kegiatan rutin mereka di dalam dan sekitar desa untuk mendokumentasikan satwa liar menggunakan ponsel masing-masing.

Direktur Borneo Futures Indonesia Nardiyono mengatakan pendekatan ini memberi alternatif ekonomi bagi warga yang sebelumnya menggantungkan penghasilan dari menangkap satwa.

"Kalau dulunya mereka menangkap satu burung dihargai Rp50 ribu satu ekornya, tapi sekarang masyarakat cukup mengambil foto, mengirimkan ke kami, dan mereka sudah bisa mendapat upah atau imbalan sebesar Rp5-10 ribu untuk satu jenis burung," ujar Nardiyono, dikutip dari AFP, Senin (21/9/2026).

Baca Juga: Suahasil Minta Pengawasan Pajak dan Bea Cukai Semakin Tajam

Rekaman suara terutama digunakan untuk mendokumentasikan satwa yang sulit terlihat, seperti owa dan burung. Hasil pengamatan kemudian diunggah melalui aplikasi seluler KehatiKu untuk diverifikasi oleh tim ahli keanekaragaman hayati Borneo Futures.

Besaran imbalan yang diterima warga disesuaikan dengan tingkat kelangkaan spesies dan tingkat kesulitan pengamatannya, dengan dana pembayaran berasal dari para donor yang menyalurkannya melalui Borneo Futures.

Data yang terkumpul tidak berhenti sebagai dokumentasi, melainkan digunakan Borneo Futures untuk menganalisis tingkat keterhunian (occupancy) spesies dan menyusun peta keberadaan satwa secara lebih komprehensif di bentang alam tersebut.

Baca Juga: Warga Surabaya Waspada! Banjir Rob Diprediksi Landa Pesisir 11 Hari ke Depan

Proyek KehatiKu dimulai pada 2024 dengan melibatkan empat desa di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, dan bertambah menjadi sembilan desa hingga akhir 2025. Hingga saat ini, sekitar 950 warga terlibat sebagai pengamat dan telah menghasilkan lebih dari 363 ribu data pengamatan yang terverifikasi.

Program Director Yayasan KEHATI Rony Megawanto mengatakan pendekatan ini memberi alternatif bagi masyarakat dibandingkan berburu atau melakukan bentuk eksploitasi satwa lainnya. Namun, ia menegaskan kegiatan pengamatan tetap harus memperhatikan batas kawasan, baik kawasan konservasi maupun wilayah yang terikat aturan adat.

"Kalau zona yang memang tidak boleh masuk, katakanlah untuk hal yang sensitif, jangan main di situ," ucap Rony.

Baca Juga: Pendaftaran Insentif Dosen Ma'had Aly 2026 Resmi Dibuka, Cek Syarat Pencairan Rp1 Juta di Sini

Ia menambahkan, pelanggaran terhadap aturan adat berisiko memancing orang lain untuk ikut masuk secara berbondong-bondong, yang justru berdampak buruk bagi kelestarian alam.

Rony juga mengingatkan warga untuk tidak mendekati satwa secara berlebihan guna menghindari gangguan terhadap satwa sekaligus mengurangi risiko penularan penyakit zoonosis.

Editor : Hany Akasah
Sumber : radar surabaya bisnis
satwa liar penghasilan tambahan perburuan kalimantan barat foto