radarsurabayabisnis.id – Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah Jawa Timur mulai berdampak terhadap sektor pertanian. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Jawa Timur mencatat hingga 10 September 2026, sebanyak 149,95 hektare lahan padi telah dinyatakan puso atau gagal panen akibat kekurangan air.
Kepala DPKP Jatim Heru Suseno mengatakan, total lahan pertanian yang terdampak kekeringan sebenarnya jauh lebih luas, yakni mencapai 3.856 hektare. Namun, tidak seluruh lahan tersebut mengalami puso karena sebagian tanaman masih dapat diselamatkan.
“Yang terdampak itu totalnya ada 3.856 hektare. Itu yang terdampak. Belum tentu yang namanya terdampak itu kemudian akhirnya puso,” kata Heru, Jumat (18/9).
Baca Juga: Hadapi Dampak El Nino, Presiden Prabowo Perpanjang Bantuan Beras hingga Desember 2026
597,11 Hektare Tanaman Padi Terdampak Kekeringan
Heru menjelaskan, puso merupakan kondisi ketika tanaman mengalami kerusakan parah dan tidak lagi dapat diselamatkan hingga akhirnya mengalami gagal panen.
Khusus komoditas padi, luas lahan yang terdampak kekeringan di seluruh Jawa Timur mencapai 597,11 hektare.
“Puso itu ya sudah gagal panen, tidak bisa diselamatkan. Kemudian untuk padi yang terdampak itu ada 597,11 hektare. Ini seluruh Jawa Timur,” jelasnya.
Baca Juga: Mentan Amran Pastikan Stok Beras Aman Hadapi El Nino, Tambah 1 Juta Ton SPHP
Dari total 597,11 hektare lahan padi yang terdampak kekeringan tersebut, sebanyak 149,95 hektare telah dinyatakan puso. Tanaman di lahan tersebut berhenti berkembang karena tidak mendapatkan pasokan air yang cukup.
“Pusonya ini ya sudah karena kekeringan, kemudian sudah berhenti, tidak bisa diselamatkan lagi. Ada 149,95 hektare lahan padi yang puso,” ujarnya.
Jatim Waspadai Dampak El Nino 2026
Kondisi kekeringan menjadi perhatian karena Jawa Timur merupakan salah satu daerah penyangga pangan nasional, khususnya untuk komoditas padi.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga mewaspadai potensi fenomena El Nino pada 2026 yang berdasarkan prediksi BMKG berpotensi memberikan dampak terhadap kondisi kekeringan.
“Yang katanya El Nino itu ekstrem dan lebih besar daripada tahun-tahun sebelumnya. Tentu ini bagian dari perhatian kita untuk mengantisipasinya,” tutur Heru.
Menurut Heru, air menjadi salah satu faktor utama dalam produksi pertanian. Berkurangnya pasokan air dapat mengganggu pertumbuhan tanaman dan pada akhirnya memengaruhi produktivitas pertanian.
“Komoditas pertanian kita itu kan memang sumber utama untuk kehidupannya itu kan air. Ketika air itu kurang, maka tentunya produksinya juga kurang bagus,” katanya.
Puncak Kekeringan Diperkirakan Agustus-September
Heru menyebut periode puncak kekeringan diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September. Pemerintah Provinsi Jawa Timur berharap hujan mulai turun pada Oktober sehingga luas lahan yang mengalami puso tidak semakin bertambah.
“Kekeringan di BMKG, masa puncaknya ini kan pada bulan-bulan Agustus-September. Semoga saja nanti Oktober 2026 sudah mulai ada hujan walaupun belum merata,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi dampak kekeringan terhadap petani, Pemprov Jatim juga telah menyiapkan dukungan melalui penganggaran dalam Perubahan APBD (P-APBD) 2026.
Salah satu bantuan yang disiapkan adalah penyediaan benih bagi petani yang mengalami gagal panen akibat kekeringan.
Heru mengatakan, bantuan benih tersebut disiapkan dengan cakupan hingga 1.000 hektare. Luasan itu menjadi batas antisipasi apabila lahan pertanian yang mengalami puso terus bertambah.
“Kita siapkan ada 1.000 hektare. Semoga saja tidak sampai 1.000 hektare,” katanya.
Heru berharap luas lahan padi yang mengalami puso tidak meningkat signifikan apabila hujan mulai turun pada Oktober 2026.
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Surabaya