radarsurabayabisnis.id – Jauh sebelum susu kemasan memenuhi rak-rak toko seperti sekarang, Kota Surabaya ternyata sudah memiliki tradisi peternakan sapi perah dan distribusi susu segar. Aktivitas tersebut bahkan telah berlangsung sejak akhir abad ke-19.
Pada masa itu, susu segar terutama dipasok untuk memenuhi kebutuhan gizi warga Eropa yang bermukim di Kota Pahlawan. Susu hasil pemerahan kemudian dikirim langsung ke rumah-rumah pelanggan menggunakan jasa pengantar susu atau yang dikenal sebagai loper susu.
Baca Juga: Kisah Hilangnya Bioskop King dan Queen Surabaya, Dulu Tempat Nonton Paling Populer
Seiring berkembangnya industri makanan, muncul pula dugaan bahwa Surabaya pernah memiliki tempat pengolahan keju. Namun, hingga kini belum ditemukan bukti tertulis yang cukup kuat mengenai lokasi pasti pabrik keju tersebut.
Penggiat Sejarah Surabaya Nur Setiawan mengatakan, perkembangan pembuatan keju di Surabaya sudah diketahui berlangsung pada awal abad ke-20. Kemungkinan keberadaan pabrik pengolahan keju juga tidak terlepas dari berkembangnya industri pembuatan roti pada masa tersebut.
“Mungkin ada, tapi belum terdapat sumber atau data yang kuat menyebutkan lokasi pabrik keju di Surabaya. Perkembangan keju sendiri sudah ada di abad 20,” ujar Nur.
Baca Juga: Kisah Restoran Hankow, Kuliner Elite Surabaya Era 1930-an yang Kini Tinggal Kenangan
Ngangel Disebut Jadi Sentra Sapi Perah Terbesar
Peternakan sapi perah pada masa itu tidak hanya berada di satu kawasan. Sejumlah wilayah Surabaya disebut menjadi lokasi peternakan, antara lain Gundih, Banyurip, Simo, Kedung Cowek, Karang Pilang, Jemursari, hingga Ngangel.
Dari berbagai kawasan tersebut, Ngangel disebut sebagai salah satu pusat produksi susu terbesar dengan sistem pengelolaan yang relatif terstruktur.
Di kawasan tersebut, aktivitas peternakan bahkan melibatkan sejumlah pekerja dengan tugas berbeda. Ada yang bertugas memerah sapi, mengelola peternakan, hingga mengantarkan susu kepada pelanggan.
“Pemerahan susu sapi di Ngangel dulu kabarnya terbesar karena ada buruhnya. Bagian memeras susu sapi ada sendiri, bagian manajemennya ada juga, dan yang mengirim susu ke rumah-rumah ada juga. Meski di tempat lainnya dulu sudah ada bagian kirimnya juga,” tutur Nur.
Kawasan peternakan Ngangel tersebut konon berada tidak jauh dari lokasi yang kini dikenal sebagai kawasan PLN Ngangel.
Sapi Didatangkan dari Malang dan Lumajang
Untuk memenuhi kebutuhan produksi susu, sapi perah didatangkan dari sejumlah daerah di luar Surabaya, termasuk Malang dan Lumajang. Sebagian lainnya dikembangkan dari ternak lokal.
Susu segar yang dihasilkan kemudian didistribusikan secara langsung ke rumah-rumah pelanggan. Konsumen utamanya pada masa itu adalah keluarga-keluarga Eropa yang tinggal di Surabaya.
Para pengantar susu menjadi bagian penting dalam rantai distribusi tersebut. Mereka berkeliling dari rumah ke rumah membawa susu segar hasil pemerahan dari peternakan.
Model distribusi seperti ini membuat susu segar dapat dikonsumsi masyarakat tanpa melalui proses pengemasan modern seperti yang dikenal saat ini.
Peternakan Mulai Tersingkir Susu Pabrikan
Kejayaan peternakan sapi perah mandiri di Surabaya perlahan mulai meredup seiring berkembangnya industri susu pabrikan.
Produk susu yang hadir dalam kemasan lebih menarik dan diproduksi secara massal membuat peternak mandiri menghadapi persaingan yang semakin berat. Satu per satu usaha peternakan akhirnya berhenti beroperasi.
Di Banyurip, misalnya, aktivitas peternakan sapi perah disebut sudah tidak ditemukan lagi sekitar tahun 2000. Kondisi serupa juga terjadi di Ngangel yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu sentra produksi susu terbesar.
“Termasuk juga yang ada di Ngangel juga tidak ada. Karena kalah bersaing dengan pabrik susu yang menjual dengan kemasan,” ungkap Nur.
Loper Susu Hilang dari Jalanan Surabaya
Tidak hanya peternak yang terdampak perubahan zaman. Profesi loper susu yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga Surabaya juga akhirnya menghilang.
Keberadaan pengantar susu di jalanan Kota Pahlawan disebut terakhir tercatat sekitar 1990. Setelah itu, distribusi susu semakin didominasi produk pabrikan yang memiliki jaringan pemasaran dan kemasan modern.
Meski sebagian besar peternakan lama telah hilang, jejak tradisi peternakan sapi perah belum sepenuhnya lenyap dari Surabaya.
Sejumlah kawasan seperti Jemursari, Kalijudan, dan Karang Pilang masih disebut memiliki aktivitas peternakan yang diteruskan oleh generasi berikutnya.
“Terakhir keberadaan pengantar susu sekitar tahun 1990,” pungkasnya.
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Surabaya