Tren Foto AI 80-an Viral di Medsos, Ternyata Bikin Bumi Makin Panas!

Hany Akasah • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 18:57 WIB
ILUSTRASI: Tren foto bergaya 80-an buatan AI yang sedang populer di medsos.
ILUSTRASI: Tren foto bergaya 80-an buatan AI yang sedang populer di medsos.

RADAR SURABAYA BISNIS - Media sosial tengah diramaikan dengan tren mengunggah foto bergaya era 1980-an hasil olahan Kecerdasan Buatan (AI). 

Pengguna hanya perlu mengunggah foto asli dan memberikan instruksi (prompt), lalu AI akan menyulapnya menjadi potret retro yang estetis. Namun, di balik kemudahan dan keseruannya, ada dampak lingkungan tersembunyi yang turut memperparah pemanasan global.

Proses pembuatan gambar AI tidak terjadi begitu saja di layar ponsel pengguna, melainkan membutuhkan daya komputasi masif di pusat data (data center). 

Baca Juga: Sisa Kuota Internet Kini Tak Boleh Hangus, Menkomdigi Terbitkan Aturan Baru

Menurut penelitian dari Carnegie Mellon University dan Hugging Face, konsumsi energi untuk menghasilkan gambar AI bisa sangat besar, tergantung pada seberapa kompleks model yang digunakan. Semakin rumit instruksinya, semakin besar pula listrik yang disedot oleh mesin-mesin server.

Tak hanya listrik, operasional sistem AI juga menguras sumber daya air secara signifikan. Mesin-mesin di pusat data menghasilkan panas yang luar biasa, sehingga membutuhkan sistem pendingin berbasis air agar tidak mengalami overheating. 

Riset dari University of California, Riverside, menunjukkan bahwa jejak air dari sistem pendingin AI ini berdampak nyata terhadap ketersediaan air dan lingkungan sekitar.

Baca Juga: Ingatkan Hak dan Kewajiban Pekerja, Kemnaker Minta Kontrak Kerja Dicermati Detail

Badan Energi Internasional (IEA) bahkan memprediksi bahwa konsumsi listrik pusat data secara global akan melonjak tajam hingga tahun 2030, dengan AI sebagai salah satu pendorong utamanya.

Meski demikian, masalah ini tidak bisa hanya dibebankan pada pengguna yang sekadar mengikuti tren foto. Tanggung jawab terbesar justru berada di tangan perusahaan-perusahaan teknologi penyedia layanan AI. 

Mereka dituntut untuk memiliki peran aktif dalam mengembangkan model AI, infrastruktur chip, dan sistem pendingin pusat data yang jauh lebih efisien dan rendah emisi karbon.

Baca Juga: Pisang Mas Kirana Lumajang Dibidik Singapura, Peluang Besar Bagi Petani untuk Ekspor

Editor : Hany Akasah
Sumber : radar surabaya bisnis
pemanasan global foto Artifical Intelligence retro tren