Sulap Limbah Keramik Jadi Produk Ekspor Bernilai Tinggi, Wamendag Dorong UMKM Keramik Manfaatkan Pel

Hany Akasah • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 15:46 WIB
Wamendag Dyah Roro Esti berdialog dengan pendiri Lumosh Living saat kunjungan kerja di Surabaya
Wamendag Dyah Roro Esti berdialog dengan pendiri Lumosh Living saat kunjungan kerja di Surabaya

RADAR SURABAYA BISNIS – Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri menyampaikan apresiasinya terhadap langkah inovatif Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Lumosh Living. 

Produsen alat makan keramik ini dinilai sukses menembus pasar ekspor dengan mengedepankan prinsip ekonomi sirkular dan pemberdayaan masyarakat.

Apresiasi tersebut disampaikan Wamendag Roro Esti saat melakukan kunjungan kerja ke fasilitas Lumosh Living pada Minggu (6/9/2026). 

Baca Juga: Boga Bahari RI Raup Rp3,49 Triliun di Jepang, Tuna dan Gurita Paling Laris

Kunjungan ini merupakan wujud nyata dukungan Kementerian Perdagangan untuk mengoptimalkan potensi daya saing UMKM lokal di kancah global.

"Kami memiliki perwakilan perdagangan (perwadag) yang tersebar di banyak negara dan berfungsi sebagai mediator untuk mempertemukan UMKM dengan buyer yang sesuai," ujar Wamendag Roro Esti. 

Ia juga mendorong agar para pelaku UMKM terus proaktif memanfaatkan berbagai fasilitas business matching yang disediakan kementerian.

Baca Juga: Meroket, Posisi Klasemen Aldi Satya Mahendra Naik Tajam Dua Tingkat di World Supersport

Daya tarik utama Lumosh Living di mata pasar internasional adalah komitmennya terhadap ekonomi sirkular yang diusung sejak berdiri pada 2016. UMKM ini berhasil menyulap limbah pecahan keramik retur konsumen dan produk gagal bakar menjadi lini reclay tableware yang elegan dan tahan lama.

Co-founder Lumosh Living, Raymon Tjiadi, memaparkan bahwa inovasi reclay tableware memanfaatkan 40 persen limbah keramik dan 10 persen pasir besi. Proses ini diklaim mampu mengurangi penggunaan bahan baku murni hingga 50 persen.

"Inovasi sirkular ini juga terbukti meningkatkan kepadatan dan ketahanan produk hingga 20 persen, serta mengurangi emisi karbon sebesar 30 persen," tutur Raymon.

Baca Juga: Lowongan Kerja BUMN DAMRI September 2026 untuk Lulusan S1, Cek Syaratnya!

Lebih lanjut, ia memastikan seluruh produk daur ulang tersebut bebas timbal (lead-free) dan kadmium, dengan tingkat kualitas 99 persen setara keramik berbahan baru. Konsep berkelanjutan inilah yang menjadi pembeda kuat Lumosh Living dibandingkan keramik produksi massal lainnya.

Selain unggul dalam proses produksi, Lumosh Living juga dinilai sangat jeli dan kreatif dalam merespons preferensi pasar internasional. 

Kesuksesan penjualan daring produk mangkok matcha yang dibuat unik satu sama lain menjadi bukti nyata bagaimana mereka mampu memanfaatkan tren konsumsi teh hijau yang tengah digandrungi generasi muda global.

Baca Juga: Prabowo Lepas Kontingen Asian Games 2026, Janjikan Bonus Rp3 Miliar untuk Peraih Medali Emas

Editor : Hany Akasah
Sumber : radar surabaya bisnis
keramik umkm surabaya wamendag Dyah Roro Esti