Dorong Industri Hijau, SIG Unjuk Gigi Solusi Bahan Bangunan Rendah Emisi

Hany Akasah • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 11:55 WIB
Melalui kolaborasi bersama Green Building Council Indonesia (GBCI), SIG hadir di Indonesia Green Building Festival 2026 yang digelar di 5 kota besar. (Foto : Ist/Radar Surabaya Bisnis)
Melalui kolaborasi bersama Green Building Council Indonesia (GBCI), SIG hadir di Indonesia Green Building Festival 2026 yang digelar di 5 kota besar. (Foto : Ist/Radar Surabaya Bisnis)

RADAR SURABAYA BISNIS – PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) kembali mempertegas komitmennya dalam mengakselerasi tren konstruksi berkelanjutan di Tanah Air.

Melalui kolaborasi bersama Green Building Council Indonesia (GBCI), BUMN semen terbesar di Indonesia ini mendorong secara masif penggunaan bahan bangunan rendah emisi dalam gelaran Indonesia Green Building Festival 2026.

Rangkaian Indonesia Green Building Festival 2026 dijadwalkan menyapa lima kota besar, diawali dari Bandung (9 September), dilanjutkan ke Yogyakarta (14 September), Makassar (24 September), Denpasar (26 September), dan berakhir di Surabaya (29 September 2026).

Baca Juga: Konsisten Jaga Momentum Pertumbuhan, Kinerja SIG Tumbuh Solid pada Semester I-2026

Pameran dan edukasi ini digelar untuk menggugah para pelaku industri agar mengintegrasikan prinsip bangunan hijau (green building), mulai dari pemilihan material hingga proses konstruksi di lapangan.

Dalam acara Opening Ceremony yang berlangsung di Patrajasa Yudistira Grand Ballroom, Jakarta, Kamis (3/9/2026), Direktur Operasi SIG, Reni Wulandari, menegaskan bahwa penerapan bangunan hijau harus diwujudkan secara konkret pada setiap tahap pembangunan.

”Transisi menuju konstruksi rendah emisi membutuhkan kolaborasi seluruh rantai nilai, sekaligus ketersediaan solusi bahan bangunan untuk berbagai kebutuhan proyek. SIG mengambil peranan dengan menghadirkan inovasi produk dan solusi rendah emisi yang diproduksi dengan bahan baku dan proses yang ramah lingkungan,” tegas Reni Wulandari, Rabu (9/9/2026).

Baca Juga: SIG Mulai Tinggalkan Batu Bara, Sampah Kota Disulap Jadi Bahan Bakar

Reni menjelaskan, SIG telah mengimplementasikan prinsip ekonomi sirkular dalam rantai produksinya. Salah satunya melalui pemanfaatan bahan bakar alternatif dari sampah perkotaan yang diolah menjadi refuse-derived fuel (RDF), limbah industri, hingga biomassa.

Kebijakan ini berhasil mendorong tingkat Thermal Substitution Rate (TSR) di pabrik-pabrik SIG mencapai angka 25 persen.

Langkah dekarbonisasi SIG juga diperkuat dengan transisi ke Energi Baru Terbarukan (EBT) melalui pemaanfaatan panel surya serta optimalisasi pemanfaatan gas panas buang melalui teknologi Waste Heat Recovery Power Generation (WHRPG).

Baca Juga: Penjualan Semen Indonesia Naik 5,6 Persen, SIG Bidik Kuasai Pasar Jawa Barat

Tak berhenti di situ, efisiensi produksi ditingkatkan lewat plant digitalization berbasis plant optimizer di fasilitas manufaktur milik perseroan.

Hasilnya, inovasi semen hijau karya SIG terbukti sanggup menekan intensitas emisi karbon hingga 38 persen lebih rendah ketimbang semen konvensional, tanpa mengorbankan kualitas standar teknisnya.

Saat ini, portofolio semen hijau SIG yang telah menggenggam sertifikasi Green Label mencakup varian PwrPro—semen dengan kekuatan awal ekstra dan daya pengerjaan tinggi—serta MaxStrength Pro untuk pengecoran massal dan stabilisasi tanah.

Baca Juga: Menata SIG Group, Solusi Bangun Indonesia Bubarkan SBN, Ini Alasannya

SIG juga mengembangkan lini produk beton inovatif seperti teknologi beton berpori ThruCrete, beton cepat kering SpeedCrete, beton dekoratif DekoCrete, hingga produk Bata Interlock Presisi.

Produk turunan semen hijau dengan sistem bata saling mengunci ini menawarkan solusi bangunan kokoh, ramah gempa, tahan api, sekaligus efisien dari sisi waktu pengerjaan.

Reni menambahkan, di tengah ketatnya persaingan industri, keberlanjutan telah bertransformasi menjadi keunggulan kompetitif bagi SIG.

Baca Juga: Menata SIG Group, Solusi Bangun Indonesia Bubarkan SBN, Ini Alasannya

“Produk-produk SIG juga telah tersertifikasi SNI dan mengandung komponen dalam negeri (TKDN) tinggi lebih dari 90 persen. Dengan semua keunggulan yang dimiliki, produk SIG memiliki daya saing di level nasional bahkan global,” pungkas Reni. (han) 

Editor : Hany Akasah
Sumber : radar surabaya bisnis
semen bahan bangunan bisnis SIG surabaya