RADAR SURABAYA BISNIS - Sektor pertanian tembakau di Kabupaten Bojonegoro menunjukkan tren yang sangat positif pada tahun 2026.
Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) mencatat adanya lonjakan signifikan pada perluasan area tanam yang dibarengi dengan kenaikan harga jual komoditas di tingkat petani.
Berdasarkan data yang dihimpun hingga Agustus 2026, total luas tanam tembakau di wilayah tersebut telah mencapai 15.672,68 hektare.
Baca Juga: Pendaftar PPIH 2027 Tembus 75 Ribu, Kemenhaj Gelar Tes CAT Dua Gelombang
Angka ini mengalami peningkatan pesat dibandingkan realisasi pada periode yang sama di tahun 2025, yang saat itu hanya menyentuh angka 12.041 hektare.
Pengawas Mutu Hasil Pertanian Ahli Muda sekaligus Subkor Tanaman Perkebunan DKPP Bojonegoro, Bambang Wahyudi, menjelaskan bahwa faktor iklim dan cuaca menjadi alasan utama bertambahnya luas area tanam ini.
Kondisi cuaca pada musim tanam tahun ini dinilai sangat mendukung pertumbuhan tembakau, sehingga mempengaruhi keputusan para petani dalam memilih komoditas.
Baca Juga: 8 Bandara Ditutup Imbas Erupsi Anak Krakatau, Ini Solusi bagi Penumpang
Selain faktor iklim, tingginya harga jual turut menjadi katalisator semangat petani. Saat ini, harga tembakau rajangan kering di pasaran dilaporkan sangat positif, berkisar antara Rp 40.000 hingga Rp 45.000 per kilogram tergantung pada kualitas tembakau.
Sukro, salah satu petani tembakau asal Desa Sitiaji, Kecamatan Sukosewu, membenarkan tren positif tersebut. Ia merinci bahwa untuk daun basah, harganya kini menyentuh Rp 2.000 hingga Rp 4.000 per kilogram, sedangkan tembakau rajangan kering miliknya bisa laku antara Rp 45.000 hingga Rp 48.000 per kilogram.
"Harga yang cukup tinggi ini menjadi penyemangat kami untuk terus mengembangkan usaha tani," ujar Sukro. Ia juga menyampaikan harapannya agar ketersediaan pupuk bersubsidi dapat lebih mudah diakses oleh petani dengan harga yang terjangkau agar sepadan dengan biaya produksi.
Baca Juga: Anak Krakatau Erupsi 25 Jam, PVMBG Tetapkan Status Siaga Level 3
Para petani berharap tren harga tinggi ini dapat terus bertahan setidaknya hingga puncak masa panen raya tiba.
Editor : Hany AkasahSumber : radar surabaya bisnis