17 Juta Barel Minyak Lewati Selat Hormuz, Tertinggi Sejak Perang Iran

Hany Akasah • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 12:39 WIB
Kapal tanker minyak melintasi perairan Selat Hormuz. Volume pengiriman harian menembus 17 juta barel di tengah eskalasi konflik militer AS-Iran pada awal September 2026.
Kapal tanker minyak melintasi perairan Selat Hormuz. Volume pengiriman harian menembus 17 juta barel di tengah eskalasi konflik militer AS-Iran pada awal September 2026.

RADAR SURABAYA BISNIS – Lebih dari 17 juta barel minyak diangkut lewat Selat Hormuz menggunakan kapal pada Senin (1/9/2026), menjadi angka tertinggi sejak perang Iran dimulai akhir Februari lalu.

Menteri Energi Amerika Serikat (AS) Chris Wright menyebut volume ekspor minyak dari kawasan tersebut bahkan lebih tinggi dibanding sebelum perang, jika turut memperhitungkan aliran minyak lewat jaringan pipa Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) yang menghindari Selat Hormuz.

Sebelum perang dimulai pada 28 Februari, sekitar 20 juta barel minyak mentah dan produk minyak per hari melewati selat strategis tersebut. Wright menyebut Iran mulai kehilangan kemampuannya menjadikan perekonomian dunia sebagai alat tekanan, karena militer AS kini membantu kapal tanker melintasi Selat Hormuz.

Baca Juga: Google Rilis Gemini 3.8 Flash, Ada Versi Khusus Pemburu Celah Keamanan

"Iran menyebabkan beberapa gangguan, tetapi mereka kehilangan kartu tersebut," kata Wright, dikutip dari CNBC, Kamis (3/9/2026).

Pemerintah AS mengeklaim memiliki data ekspor minyak yang lebih tinggi dibandingkan laporan perusahaan pelacak kapal independen, karena militer AS dan Departemen Energi disebut memiliki data terbaik mengingat perusahaan swasta kerap tidak mendeteksi pelayaran yang dilakukan secara rahasia.

Harga minyak mentah AS sempat turun sekitar 1 persen pada Rabu, meski kontrak berjangka sebelumnya sempat menyentuh sekitar 90 dolar AS per barel ketika AS dan Iran kembali saling melancarkan serangan militer.

Baca Juga: Kemenhub Naikkan Batas Maksimal Fuel Surcharge Tiket Pesawat Jadi 40 Persen

Militer AS telah membentuk koridor pelayaran di sepanjang pesisir Oman yang digunakan kapal tanker dari negara-negara sekutu AS di kawasan Teluk untuk melintasi Selat Hormuz.

Kapal-kapal tersebut kerap berlayar pada malam hari dengan transponder dimatikan guna mengurangi risiko serangan. 

"Dengan atau tanpa Iran, minyak dan gas akan mengalir keluar dari kawasan Teluk Arab dan itu sedang terjadi," kata Wright.

Baca Juga: Lirik Potensi Lapangan Kerja Baru, Kemnaker Percepat Penyiapan Kompetensi SDM Hadapi Green Jobs

Meski demikian, Iran dilaporkan berulang kali menyerang kapal tanker yang menggunakan jalur tersebut, dan meminta kapal komersial melewati koridor utara lewat perairannya. Berdasarkan laporan United Kingdom Maritime Trade Operations Centre, sedikitnya dua kapal tanker telah diserang di Selat Hormuz sepanjang pekan ini.

Ketegangan di Selat Hormuz ini menjadi bagian dari eskalasi konflik AS-Iran yang masih berlangsung, dengan dampaknya turut dirasakan pada fluktuasi harga minyak dunia dan nilai tukar sejumlah mata uang, termasuk rupiah.

Editor : Hany Akasah
Sumber : radar surabaya bisnis
konflik global iran perang dagang minyak bumi selat hormuz