Diduga Karena Pengiriman, 666 Orang Keracunan MBG Sidoarjo, Berikut Datanya

Diky Putra Sansiri • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 19:42 WIB
Dugaan keracunan setelah konsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Sidoarjo menjadi perhatian Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.
Dugaan keracunan setelah konsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Sidoarjo menjadi perhatian Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

radarsurabayabisnis.id - Dugaan keracunan setelah konsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Sidoarjo menjadi perhatian Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Salah satu hal yang disoroti adalah perbedaan waktu pengiriman makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kepada penerima manfaat.

Khofifah mengatakan makanan yang dimasak pada waktu dan tempat yang sama perlu dicermati berdasarkan waktu distribusinya. Menurutnya, makanan yang lebih cepat dikirim dan dikonsumsi dalam kondisi tersebut berjalan aman.

Temuan itu disampaikan Khofifah saat meninjau pasien dugaan keracunan MBG di Rumah Sakit Siti Hajar Sidoarjo, Kamis (3/9).

Baca Juga: 66 Kepala SPPG Dipecat, Tata Kelola MBG Ditarget Beres Sebelum 20 Oktober 2026

Dari 18 unit penerima manfaat yang mendapatkan makanan dari SPPG yang sama, sebagian besar dilaporkan berjalan aman. Namun, terdapat perbedaan waktu pengiriman pada sejumlah titik penerima manfaat.

"Kalau selesai dimasak jam 5, kemudian jam 7 diantar, jam 10 sudah bisa dimanfaatkan oleh penerima manfaat. Ini semua aman," kata Khofifah.

Pengiriman Terlambat Jadi Sorotan

Khofifah menjelaskan, kondisi berbeda ditemukan pada makanan yang baru dikirim sekitar pukul 11.00 atau lebih dan kemudian dikonsumsi sekitar pukul 12.30 hingga 13.00.

Menurutnya, perbedaan waktu distribusi tersebut menjadi salah satu hal yang perlu dicermati dalam evaluasi dugaan keracunan MBG di Sidoarjo.

Baca Juga: BGN Tutup 1.300 Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), Perketat Keamanan Pangan

"Ketika kemudian pengirimannya terlambat, ini yang kemudian menjadikan masalah. Jadi mari kita terus berbenah bersama," ujarnya.

Meski demikian, Khofifah menegaskan temuan tersebut menjadi bahan evaluasi bersama. Pengawasan tidak hanya perlu dilakukan terhadap Badan Gizi Nasional (BGN), tetapi juga terhadap SPPG sebagai penyedia makanan.

Menurut Khofifah, makanan yang menjadi perhatian tersebut diproduksi di tempat yang sama dan menggunakan format menu yang sama. Namun, perbedaan waktu distribusi menjadi salah satu aspek yang perlu diperiksa lebih lanjut.

Evaluasi diharapkan mencakup seluruh rantai penyediaan MBG, mulai dari proses memasak, pengemasan, pengiriman hingga makanan dikonsumsi penerima manfaat.

24 Pasien di RS Siti Hajar Boleh Pulang

Dalam kunjungannya ke RS Siti Hajar Sidoarjo, Khofifah juga menyampaikan perkembangan kondisi pasien yang menjalani perawatan.

Dari 27 pasien yang masih dirawat, sebanyak 24 pasien dipastikan dapat menjalani proses keluar rumah sakit (KRS) pada Kamis pagi.

Sementara tiga pasien lainnya masih menjalani observasi. Khofifah berharap ketiganya dapat diperbolehkan pulang pada Kamis sore apabila kondisi kesehatan terus membaik.

"Yang saya tanya kepada semua pasien, mual dan pusing sudah tidak ada," ungkap Khofifah.

Keluhan mual dan pusing sebelumnya banyak dirasakan pasien yang menjalani perawatan setelah mengonsumsi makanan dari program MBG.

Khofifah juga memastikan biaya perawatan korban ditanggung oleh pemerintah daerah. Dengan demikian, pasien maupun keluarga tidak perlu menanggung biaya pengobatan akibat insiden tersebut.

Dugaan Keracunan MBG Sidoarjo Capai 666 Orang

Sementara itu, dugaan keracunan MBG di Sidoarjo terus meluas. Insiden tersebut tidak hanya terjadi di Pondok Pesantren (Ponpes) Manbaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin.

Berdasarkan data sementara per 2 September 2026, tercatat sembilan sekolah dan pondok pesantren terdampak dengan total 666 orang.

Mereka terdiri dari siswa, tenaga pendidik hingga orang tua.

Ponpes Manbaul Hikam menjadi lokasi dengan jumlah korban terbanyak. Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendikbud) Kabupaten Sidoarjo mencatat sebanyak 487 santri terdampak.

Jumlah tersebut masih bersifat dinamis karena proses pendataan dan penanganan korban masih berlangsung.

Kasus ini menjadi momentum evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG, khususnya pada rantai distribusi makanan. Pemerintah dan pihak terkait diminta memastikan setiap tahapan, mulai dari pengolahan hingga makanan diterima dan dikonsumsi, berjalan sesuai standar keamanan pangan.

Khofifah menegaskan seluruh pihak harus melakukan pembenahan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi dan program MBG dapat berjalan dengan aman bagi penerima manfaat.

Editor : Hany Akasah
Sumber : radar sidoarjo
keracunan mbg makanan bergizi gratis MBG Sidoarjo Mbg khofifah indar parawansa