Fasilitas penampung yang beroperasi sejak 1992 ini menjadi simpul vital jaringan transmisi yang menerima aliran gas bumi dari lapangan lepas pantai perairan Madura.
Pasokan tersebut menempuh perjalanan melintasi pipa bawah laut sepanjang 357 kilometer dari Pulau Pagerungan, Kabupaten Sumenep, yang berada di kedalaman 3 hingga 60 meter, lalu tersambung ke pipa darat sepanjang 13 kilometer menuju ORF Porong.
Integrasi jaringan pipa sepanjang total 369,7 kilometer ini juga terus diperkuat, termasuk melalui tie-in Lapangan MAC milik HCML pada akhir 2023 dengan metode hot tap di dasar laut.
Dari fasilitas ORF Porong, gas disalurkan ke wilayah Pasuruan hingga Gresik dengan volume penyaluran mencapai 200–300 MMSCFD. Alokasi energi ini dialirkan sebanyak 120 MMSCFD per hari untuk pemenuhan kebutuhan industri pupuk, sementara 80–90 MMSCFD disuplai ke Pembangkit Listrik Jawa Bali (PJB) guna menyokong listrik Pulau Jawa dan Bali serta berbagai sektor industri vital lainnya.
Kelancaran distribusi gas bumi tidak lepas dari pemeliharaan insentif dan koordinasi ketat di lapangan, terutama pada sektor pipa bawah laut yang beririsan langsung dengan perairan padat aktivitas nelayan serta jalur pelayaran.
Pihak Pertagas rutin menggelar patroli berkala setiap dua bulan sekali untuk memastikan keamanan jalur jaringan tersebut. Spv Maintenance Distrik Gresik Pertagas OEJA, Muhammad Maura Gomez, menegaskan pentingnya langkah presisi dalam mengamankan fasilitas penanda di laut.
"Kita patroli biasanya kita maintenance buoy-nya, kita ganti lampu buat penunjuk arah untuk nelayan, karena areanya kita itu, areanya dekat, Pasuruan itu kan banyak nelayan ya. Jadi kita kerja sama sama polisi dan TNI di area Pasuruan untuk menjaga keamanan objek vital nasional, buoy-nya kita dan pipanya kita agar tidak terkena jangkar kapal."
Selain penataan navigasi pelayaran, kesehatan fisik jaringan pipa bawah laut turut dijaga secara berkala guna mengantisipasi kerusakan teknis akibat paparan lingkungan laut. Gomez menyampaikan bahwa penerapan sistem perlindungan elektrokimia menjadi fondasi utama dalam merawat pipa dari risiko karat.
"Kalau maintenance-nya kita tetap katodik. Kita melihatnya dari katodiknya. Kita kan ada cathodic protection namanya untuk proteksi pipa kita."
Tantangan pengamanan pasokan energi juga berlangsung di area darat, mengingat jalur pipa gas turut membentang sepanjang 30 kilometer di koridor jalan tol Surabaya-Gresik yang melintasi kawasan padat Sidoarjo dan Waru.
Di wilayah ini, potensi gangguan umumnya bersumber dari gesekan dengan aktivitas masyarakat sekitar, seperti maraknya pemukiman atau bangunan liar yang berdiri tepat di atas ruang milik jalan pipa transmisi. Mengenai dinamika penanganan di jalur darat tersebut.
"Warung-warung ilegal, gitu-gitu. Itu biasanya kita sosialisasi, kita minta bongkar, gitu. Karena enggak boleh sama sekali di atas pipa itu ada bangunan." tambah Gomez.
Upaya pengamanan dan pemeliharaan infrastruktur ini memperkuat konektivitas jaringan transmisi gas bumi yang kini tidak hanya melayani Jawa Timur, tetapi terus tersambung ke wilayah Jawa Tengah melalui pipa Gresik–Semarang (Gresem). Berkat integrasi lebih lanjut dengan jalur Cirebon–Semarang (Cisem), rantai pasok gas bumi kini berhasil terhubung secara utuh dari ujung timur hingga barat Pulau Jawa. (yas/han)