Pemerintah Pacu Transformasi Perdagangan Adaptif Lewat Pengembangan Wisata Belanja dan Digitalisasi

Hany Akasah • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 19:25 WIB
Menko Airlangga dan jajaran di Indonesia Retail Summit & Expo 2026.
Menko Airlangga dan jajaran di Indonesia Retail Summit & Expo 2026.

RADAR SURABAYA BISNIS – Pemerintah terus mendorong transformasi perdagangan domestik yang modern, komprehensif, struktural, dan adaptif dalam merespons perkembangan ekonomi serta perubahan perilaku masyarakat. 

Salah satu peluang yang terus dioptimalkan adalah pengembangan wisata belanja sebagai motor pertumbuhan baru, seiring dengan meningkatnya aktivitas pariwisata dan potensi konsumsi masyarakat di dalam negeri.

"Tentu di berbagai negara, tujuan dari wisatawan sebagian adalah kuliner dan belanja. Jadi ini tentu perlu didorong supaya mereka belanja di Indonesia saja. Dan kita berharap bahwa ini juga bisa memanfaatkan wisata belanja sebagai motor pertumbuhan baru," ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Opening Ceremony Indonesia Retail Summit & Expo (IRSE) 2026 dan Penyerahan Penghargaan Hari Ritel Modern Indonesia (HARMONI) Awards 2026, di Jakarta, Rabu (26/08).

Baca Juga: Wacana Ubi Bombing Atasi Karhutla, Ahli Kebencanaan Ungkap Bahaya Tersembunyinya

Wisata Belanja Berpotensi Besar

Potensi wisata belanja semakin besar seiring dengan meningkatnya mobilitas wisatawan. Pada Januari-Juni 2026, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 7,45 juta kunjungan, meningkat 5,71% (yoy). Sementara itu, perjalanan wisatawan nusantara mencapai 630,41 juta perjalanan atau tumbuh 2,71% (yoy).

Di sisi lain, terdapat potensi besar dari pengeluaran masyarakat Indonesia yang melakukan perjalanan ke luar negeri. Berdasarkan data Bank Indonesia, sepanjang Semester I 2026 terdapat sekitar 4,46 juta perjalanan wisatawan nasional ke luar negeri dengan pembayaran jasa perjalanan wisatawan Indonesia di luar negeri mencapai sekitar USD6,7 miliar. Kondisi tersebut menunjukkan ruang yang besar untuk meningkatkan daya tarik wisata belanja di dalam negeri.

Baca Juga: 3 Cara Baru WhatsApp Lindungi Akun Kamu dari Phishing dan Hacker

Penguatan Ekosistem Ritel Hingga Perdesaan

Penguatan perdagangan domestik juga perlu dilakukan dengan memperluas jangkauan ekosistem ritel hingga ke wilayah pedesaan. 

Pemerintah mendorong Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) untuk menjadi bagian dari ekosistem tersebut, sehingga akses masyarakat terhadap barang kebutuhan ritel dapat semakin luas sekaligus membuka jalur pemasaran bagi produk yang dihasilkan masyarakat daerah.

"Bapak Presiden juga mendorong agar retail ini tidak hanya di kota-kota besar ataupun di urban, tetapi masuk juga di pedesaan. Oleh karena itu pemerintah mendorong Koperasi Merah Putih agar barang retail yang disubsidi pemerintah juga bisa tersedia di lapangan. Sekaligus mempunyai tugas sebagai agen untuk membeli barang-barang hasil pertanian ataupun perikanan di daerah masing-masing," jelas Menko Airlangga.

Baca Juga: Kemenkes: 3,4 Juta Warga Terdampak Asap Karhutla, Kasus ISPA Melonjak di Kalimantan

Integrasi antara ritel dan produksi dalam negeri juga menjadi bagian penting dalam transformasi perdagangan. Pemerintah mendorong agar peningkatan aktivitas perdagangan tidak hanya memperkuat sisi konsumsi, tetapi sekaligus menciptakan permintaan bagi barang yang diproduksi di dalam negeri.

"Dan terus pemerintah mendorong sinergi antara retail, dan harapannya tentu barang yang didorong di retail itu juga barang yang diproduksi di dalam negeri," pungkas Menko Airlangga.

Digitalisasi Ritel Berbasis UMKM

Penguatan perdagangan domestik juga sejalan dengan peran konsumsi sebagai salah satu penopang pertumbuhan ekonomi nasional. Pada Triwulan II 2026, konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 5,06% (yoy) dan berkontribusi 53,32% terhadap PDB. Sementara itu, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Juli 2026 berada di level 116,8, tetap di atas ambang optimistis 100.

Baca Juga: Servis Murah Yamaha dan Beragam Hadiah Meriahkan Gebyar UMKM Sidoarjo

Transformasi perdagangan juga terus didukung oleh perkembangan sistem pembayaran digital. Hingga Juni 2026, QRIS telah digunakan oleh 65,77 juta pengguna dan diterima oleh 44,86 juta merchant, dengan 96,68% di antaranya merupakan pelaku UMKM. Digitalisasi tersebut menjadi salah satu fondasi untuk membangun ekosistem perdagangan yang semakin efisien dan inklusif.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menambahkan bahwa penguatan sektor perdagangan perlu melihat perubahan pola konsumsi dan perkembangan ekosistem usaha secara lebih menyeluruh.

"Transformasi perdagangan tidak hanya berbicara mengenai peningkatan aktivitas belanja, tetapi juga bagaimana menciptakan ekosistem yang menghubungkan konsumen, pelaku usaha, produsen dalam negeri, hingga sistem pembayaran dan distribusi. Dengan ekosistem yang semakin terintegrasi, potensi wisata belanja dan konsumsi domestik dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional," ujar Jubir Haryo.

Baca Juga: Sepeda Onthel Juga Dipajakin dan Kena Tilang di Surabaya, Tapi Itu Dulu

Editor : Hany Akasah
Sumber : Radar Surbaya Bisnis
perdagangan ritel ekonomi wisata menko airlangga