radarsurabayabisnis.id - Luasnya perkebunan kelapa sawit tidak hanya mendukung pemenuhan kebutuhan energi, tetapi juga menghasilkan limbah berupa pelepah sawit.
Limbah tersebut kini mulai dimanfaatkan menjadi pakan ternak bernilai ekonomi melalui inovasi Tim Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga (UNAIR).
Program tersebut menyasar lebih dari 50 peternak dengan cakupan sekitar 1.000 ekor sapi. Sasaran utamanya adalah peternak yang dinilai memiliki potensi untuk berkembang.
Baca Juga: Koperasi Bakal Masuk Industri Sawit, Petani Kelola Pabrik CPO hingga Produksi Minyak Goreng
Ketua Tim Ekspedisi Patriot UNAIR Erma Safitri mengatakan program tidak hanya berfokus pada penyediaan pakan alternatif, tetapi juga membantu peternak memantau kondisi ternak secara lebih teratur.
“Selain pemanfaatan pakan alternatif, program ini menjawab kebutuhan peternak dalam memantau kesehatan, reproduksi, bobot, dan kondisi ternak secara lebih teratur,” ujar Erma, Jumat (21/8).
Pelepah Sawit Diolah Jadi Silase
Salah satu inovasi utama dalam program tersebut adalah mengolah pelepah sawit menjadi silase sebagai pakan sapi.
Prosesnya dimulai dengan mengumpulkan dan mencacah pelepah sawit. Setelah itu, bahan ditambahkan aditif atau probiotik sebelum menjalani proses fermentasi dalam kondisi tertutup selama 2–4 minggu.
Baca Juga: Harga Global Naik, Ekspor Sawit Indonesia Melonjak 7,32 Persen di Semester I 2026
Hasil fermentasi berupa pakan awetan yang lebih mudah dicerna. Kadar serat kasarnya juga lebih rendah dengan tekstur yang lebih lunak sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pakan sapi.
“Konsep ini sekaligus menerapkan prinsip ekonomi sirkular dengan mengubah limbah perkebunan menjadi sumber daya produktif,” jelas Erma.
Pemanfaatan pelepah sawit tersebut juga berpotensi menciptakan sumber pendapatan baru bagi peternak.
Tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak sendiri, silase yang dihasilkan dapat diolah dan dijual kepada peternak lain.
Ada Posyandu Ternak Keliling
Program Ekspedisi Patriot UNAIR juga menghadirkan posyandu ternak keliling yang mendatangi langsung lokasi peternak.
Layanan tersebut mencakup pendampingan kesehatan dan reproduksi sapi, evaluasi pakan, sanitasi kandang, hingga pengobatan.
Peternak juga mendapatkan pelatihan untuk menjadi kader ternak lokal. Langkah tersebut diharapkan membuat pendampingan dapat terus berjalan secara mandiri setelah program berakhir.
Setiap sapi yang menjadi sasaran program juga dilengkapi kartu pencatatan. Data tersebut mencakup identitas sapi, kondisi kesehatan, bobot, Body Condition Score (BCS), status reproduksi, riwayat pengobatan, hingga jenis pakan.
Sistem pencatatan tersebut membantu peternak memantau perkembangan ternak sekaligus mendeteksi lebih awal apabila terdapat gangguan kesehatan maupun reproduksi.
“Tim menargetkan bobot sapi tetap sesuai standar dan produktivitas reproduksi meningkat hingga mencapai target beranak satu kali dalam setahun,” pungkas Erma.
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Surabaya