RADAR SURABAYA BISNIS – Dataran Tinggi Gayo yang membentang seluas 120 ribu hektare merupakan salah satu kawasan perkebunan kopi arabika terbesar di Indonesia. Namun, luasnya lahan tersebut ternyata belum berbanding lurus dengan hasil panen yang maksimal.
Saat ini, produktivitas rata-rata petani baru mencapai sekitar 750 kilogram per hektare per tahun. Padahal, potensi lahan tersebut mampu menghasilkan 1,5 hingga 2 ton biji kopi per hektare setiap tahunnya. Artinya, baru separuh potensi kebun kopi Gayo yang benar-benar dimanfaatkan.
Menyadari kesenjangan tersebut, Armiyadi melalui Asa Coffee Gayo mengambil langkah proaktif. Ia tidak hanya berfokus pada hasil panen, tetapi juga membangun ekosistem yang menghubungkan pengetahuan, pelaku usaha, dan pasar. Langkah nyata ini turut dipresentasikan dalam ajang Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026.
Baca Juga: Uang Beredar di Indonesia Tembus Rp10.371 Triliun pada Juli 2026, Ini Motor Penggeraknya!
Menurut Armiyadi, rendahnya produktivitas bukan semata masalah alam, melainkan juga terkait sumber daya manusia. Persepsi bahwa "menjadi petani tidak butuh sekolah" membuat banyak petani kurang membekali diri dengan ilmu budi daya yang tepat, mulai dari pemilihan varietas hingga peremajaan tanaman.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Asa Coffee Gayo mengembangkan sistem tanam pagar—sebuah metode budi daya modern ala Brasil. Jika kebun konvensional hanya memuat sekitar 1.500 pohon per hektare, metode ini memungkinkan penanaman hingga 4.000 pohon per hektare.
Susunan kebun yang lebih rapi tidak hanya meningkatkan produktivitas dan estetika, tetapi juga mempermudah perawatan. Perawatan yang merata membuat kualitas biji kopi lebih seragam, sehingga cita rasa yang sampai ke cangkir konsumen menjadi jauh lebih konsisten.
Baca Juga: Dua Kasus Kekerasan Seksual Terkuak, Seluruh Panti Asuhan di Surabaya Bakal Diperiksa
Edukasi mengenai metode baru ini perlahan mengubah cara bertani masyarakat setempat. Melalui media sosial, kepercayaan petani untuk menggunakan bibit berkualitas dan menerapkan ilmu budi daya yang benar mulai terbangun.
Tantangan lain yang tak kalah krusial bagi industri kopi dari hulu adalah regenerasi. Fenomena saat ini menunjukkan generasi muda lebih tertarik menjadi barista di hilir ketimbang menjadi petani. Padahal, tanpa adanya petani yang merawat kebun, tidak akan ada biji kopi berkualitas yang bisa diseduh oleh barista mana pun.
Sebagai solusi, pelatihan yang menyasar generasi muda dan perempuan kini menjadi fokus utama. Tujuannya adalah agar keterampilan bertani modern dapat terus diwariskan antargenerasi.
Baca Juga: Insentif Motor Listrik Rp3 Juta Dinilai Kurang Efektif, Ini Alasannya
Bank Indonesia turut hadir memfasilitasi program-program semacam ini sebagai investasi jangka panjang demi menjaga rantai pasok kopi berkualitas dari Gayo.
Perjuangan di sektor hulu kini membuahkan hasil manis di sektor hilir. Dengan pendampingan manajemen bisnis, partisipasi pameran, hingga perluasan akses calon pembeli yang didukung oleh Bank Indonesia, jaringan usaha petani binaan Asa Coffee Gayo kian meluas.
Produk Asa Coffee Gayo kini bervariasi, mulai dari green bean, roasted bean, bubuk kopi, hingga merambah bisnis coffee shop. Ekspansi pasarnya pun tak main-main, kopi ini telah menembus pasar ekspor ke Amerika Serikat, Korea Selatan, China, dan Jepang.
Baca Juga: Surabaya Siapkan Rusunawa Nonsubsidi Harga Sewa Rp750 Ribu, Ini Kriteria Warganya
Menariknya, sebagian dari omzet usaha ini dialokasikan untuk program Corporate Social Responsibility (CSR) berupa konten edukasi publik.
Upaya bersama ini membuktikan bahwa dengan pengelolaan yang tepat, profesi petani kopi adalah pilihan karier yang menjanjikan, sekaligus penopang ekonomi daerah yang berkelanjutan.
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Surbaya Bisnis