RADAR SURABAYA BISNIS – Hubungan bilateral antara Indonesia dan Jerman semakin menguat seiring dengan terbukanya berbagai peluang kerja sama di sektor strategis.
Investasi, energi terbarukan, pengembangan semikonduktor, hingga pendidikan vokasi kini menjadi agenda utama dalam peta jalan kemitraan ekonomi kedua negara.
Hal tersebut mengemuka dalam konferensi pers usai pertemuan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Airlangga Hartarto, dengan Menteri Federal untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Jerman, Reem Alabali Radovan, beserta delegasi bisnis bertajuk Indonesia-Germany Economic Partnership: Strengthening Partnership, Investment and Future Cooperation di Jakarta, Kamis (20/8).
Baca Juga: Bukan 150 Menit, Studi Ungkap Durasi Jalan Kaki Ini Bisa Bakar Lemak Perut
Menko Airlangga mencatat tren positif dari kerja sama kedua negara.
"Jerman telah menjadi mitra Indonesia dengan lebih dari 250 perusahaan sudah berbisnis dan beroperasi di Indonesia dengan kumulatif dari tahun 2021–2026 investasinya mencapai USD1,23 miliar," ungkapnya.
Dalam pertemuan strategis tersebut, Airlangga secara khusus menyambut rombongan delegasi bisnis Jerman untuk mendorong realisasi sejumlah proyek strategis (pipeline project) di sektor energi terbarukan.
Baca Juga: Tak Dibuang Begitu Saja, 72 Persen Limbah Uang Rupiah Kini Jadi Cendera Mata
Selain itu, penguatan rantai nilai semikonduktor juga menjadi topik perbincangan hangat, mengingat vitalnya sektor ini bagi masa depan teknologi industri Indonesia.
Di sektor pengembangan sumber daya manusia (SDM), pendidikan vokasi turut menjadi fokus utama. Kedua negara sepakat bahwa keahlian Jerman dalam pendidikan vokasi sangat penting untuk diadopsi guna meningkatkan daya saing tenaga kerja.
Lebih lanjut, Indonesia dan Jerman juga membahas perkembangan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) yang ditargetkan dapat ditandatangani pada tahun ini.
Baca Juga: HUT ke-81 RI, Patra Logistik Perkuat Nasionalisme dan Kebersamaan Perwira di Seluruh Operasional
Kesepakatan ini diproyeksikan akan membuka peluang kerja sama dan investasi yang lebih masif antara Indonesia dan kawasan Eropa.
Terkait transisi energi, Menko Airlangga memaparkan bahwa Jerman merupakan mitra strategis dari Just Energy Transition Partnership (JETP).
Jerman bahkan bertindak sebagai co-leading International Partners Group (IPG) bersama Jepang, dengan nilai komitmen proyek mencapai USD21,4 miliar.
Baca Juga: RI Cuma Juara Dua Penggunaan Panas Bumi, Bahlil Dorong Proyek Geotermal Dikebut!
Guna mendukung upaya tersebut, Indonesia terus mendorong peningkatan proyek-proyek energi hijau agar memperoleh akses pembiayaan yang lebih luas, termasuk melalui institusi perbankan seperti KfW (Kreditanstalt für Wiederaufbau).
"Jerman mempunyai keunggulan di bidang riset terapan, precision manufacturing, standard industry, dan inilah yang kita ingin kerjasamakan dalam pertemuan-pertemuan berikutnya," tegas Menko Airlangga.
Sementara itu, Menteri Federal Reem Alabali Radovan menegaskan komitmen kuat negaranya terhadap pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Baca Juga: Usulan Biaya Haji 2027 Capai Rp107 Juta, Jemaah Cukup Bayar 40 Persen
"Saya ingin memperkuat kerja sama kita di sektor ekonomi dan juga pembangunan. Kami telah membahas bagaimana memperkuat peran pelaku usaha Jerman dalam pembangunan berkelanjutan di Indonesia, khususnya di bidang energi terbarukan," ujarnya.
Juru Bicara Kemenko Perekonomian, Haryo Limanseto, menambahkan bahwa sinergi antara pemerintah dan sektor swasta adalah kunci untuk mewujudkan kerja sama yang konkret.
Keterlibatan pelaku usaha diharapkan mampu menciptakan nilai tambah dan memperkuat struktur ekonomi kedua negara di masa mendatang.
Editor : Hany AkasahSumber : radar surabaya bisnis