Harga Udang Vaname Cuma Rp16 Ribu, Petambak Sidoarjo Terancam Tekor

Mus Purmadani • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 05:46 WIB
Petambak udang vaname di Jawa Timur, khususnya Sidoarjo, menghadapi tekanan berat. Harga jual hasil panen dinilai tidak sebanding dengan biaya produksi yang terus meningkat.
Petambak udang vaname di Jawa Timur, khususnya Sidoarjo, menghadapi tekanan berat. Harga jual hasil panen dinilai tidak sebanding dengan biaya produksi yang terus meningkat.

radarsurabayabisnis.id - Petambak udang vaname di Jawa Timur, khususnya Sidoarjo, menghadapi tekanan berat. Harga jual hasil panen dinilai tidak sebanding dengan biaya produksi yang terus meningkat.

Ketua Komisi B DPRD Jawa Timur Anik Maslachah mengatakan harga udang vaname saat ini hanya berada di kisaran Rp16.000 per kilogram. Sementara biaya pakan saja telah mencapai sekitar Rp18.000 per kilogram.

Kondisi tersebut membuat petambak berpotensi mengalami kerugian meski produktivitas budidaya tergolong tinggi.

“Harga jual sering kali dipermainkan,” ujar Anik, Minggu (16/8).

Baca Juga: Arab Saudi Cabut Larangan Impor Udang Indonesia, Ekspor Kembali Dibuka

Rantai Distribusi Panjang Jadi Biang Masalah

Menurut Anik, persoalan utama tidak hanya berada pada biaya produksi, tetapi juga tata niaga hasil perikanan.

Sebagian besar hasil panen udang masih melewati tengkulak atau middleman sebelum sampai ke perusahaan pengolahan. Panjangnya rantai distribusi tersebut membuat posisi tawar petambak menjadi lemah.

Anik menilai kondisi itu perlu segera dibenahi agar petambak mendapatkan harga yang lebih wajar.

Baca Juga: 1.852 Kontainer Udang senilai Rp 5,3 Triliun Tembus Pasar AS, Dijamin Bersertifikat Bebas Cesium 137

Petambak Diminta Terhubung Langsung dengan Industri

Untuk memutus rantai distribusi yang terlalu panjang, Anik mendorong pemerintah mempertemukan kelompok atau koperasi petambak dengan perusahaan pengolahan.

Skema kemitraan langsung dinilai dapat memangkas perantara sekaligus memberikan kepastian pasar bagi petambak.

“Pemerintah harus mempertemukan perusahaan dengan koperasi petambak agar terjalin kerja sama langsung,” tegasnya.

Menurut Anik, kerja sama tersebut harus dibangun dengan prinsip saling menguntungkan. Petambak perlu meningkatkan kualitas hasil budidaya, sedangkan perusahaan diharapkan memberikan ruang yang lebih fleksibel dalam menyerap hasil panen.

“Harus ada solusi yang saling menguntungkan,” jelasnya.

Panen Serentak Bikin Harga Udang Anjlok

Selain persoalan distribusi, Anik menyoroti pola panen yang belum terkoordinasi antardaerah.

Panen secara bersamaan di sejumlah wilayah dapat menyebabkan pasokan udang membanjiri pasar. Ketika pasokan meningkat sementara penyerapan terbatas, harga di tingkat petambak ikut tertekan.

Karena itu, pemerintah dinilai perlu memperkuat koordinasi pemasaran dan mengatur pola panen agar petambak tidak terus menghadapi tekanan harga ketika panen raya.

Bibit dan Pendampingan Juga Perlu Diperkuat

Pembenahan juga harus dilakukan dari sisi hulu. Anik mendorong peningkatan kualitas bibit, pelatihan teknik budidaya, serta pendampingan berkelanjutan bagi petambak.

Dengan pembenahan dari produksi hingga pemasaran, ia optimistis usaha tambak udang di Sidoarjo dan daerah lainnya dapat lebih menguntungkan.

“Kalau tata niaga sudah dibenahi, petambak tidak lagi mengalami kerugian saat panen raya,” pungkasnya.

Editor : Hany Akasah
Sumber : radarsurabaya
udang vaname petambak Sidoarjo tambak udang Sidoarjo harga udang dprd jawa timur