radarsurabayabisnis.id - Pemerintah mengakui keterbatasan sapi indukan dari luar negeri menjadi salah satu hambatan terbesar dalam mengejar swasembada daging sapi nasional. Di tengah kebutuhan domestik yang mencapai lebih dari 1 juta ekor sapi per tahun, Indonesia masih menghadapi keterbatasan pasokan indukan unggul.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan pengadaan sapi indukan bukan perkara mudah. Brasil dan sejumlah negara Eropa menjadi negara yang dibidik pemerintah untuk memenuhi kebutuhan tersebut sekaligus mendukung target swasembada daging dan susu.
Baca Juga: Harga Daging Sapi Tembus Rp143 Ribu, di Daerah Ini Malah Capai Rp180 Ribu
“Kan enggak mudah juga tuh dapat indukan. Bisa dari Eropa, bisa dari Brasil,” ujar Zulhas di Jakarta, Jumat (14/8).
Pemerintah Siapkan Aturan Impor Sapi Indukan
Pemerintah tengah menyiapkan Peraturan Presiden sebagai payung hukum kerja sama pengadaan dan impor sapi indukan.
Kebijakan tersebut diarahkan untuk mengubah pola pemenuhan kebutuhan daging nasional. Pemerintah ingin mengurangi ketergantungan pada impor sapi bakalan untuk dipotong dan mulai memperkuat industri peternakan dari sisi hulu.
Selama ini, Australia menjadi salah satu pemasok utama sapi Indonesia. Namun, ketergantungan terhadap satu negara membuat pemerintah perlu mencari sumber pasokan alternatif.
Sejak Mei 2025, pemerintah membuka keran impor sapi dari sejumlah negara, termasuk Brasil, Amerika Serikat, Selandia Baru, dan Meksiko.
Baca Juga: Naik Tiga Kali, Harga Daging Sapi di Pasar Krian Tembus Rp130 Ribu per Kg
Brasil menjadi salah satu pilihan utama karena memiliki populasi sapi sekitar 200 juta ekor. Selain itu, Brasil telah ditetapkan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH) sebagai zona bebas Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) tanpa vaksinasi.
Jenis sapi Girolando asal Brasil juga dinilai sesuai dengan kondisi iklim tropis Indonesia.
Target 1 Juta Sapi hingga 2029
Pemerintah menjalankan Program Percepatan Peningkatan Produksi Susu dan Daging Nasional (P2SDN) dengan target mendatangkan 1 juta sapi perah dan 1 juta sapi pedaging hingga 2029.
Program tersebut menggunakan skema investasi pelaku usaha dan tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Namun, realisasinya masih jauh dari target. Hingga 10 Juli 2025, jumlah sapi yang berhasil didatangkan mencapai 25.097 ekor, terdiri atas 11.375 sapi perah dan 13.722 sapi pedaging.
Meski demikian, angka tersebut meningkat dibandingkan rata-rata realisasi pada tahun-tahun sebelumnya yang hanya sekitar 6.000 ekor per tahun dengan dukungan APBN.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Agung Suganda menegaskan seluruh skema pengadaan indukan dilakukan melalui investasi swasta.
“Tidak ada APBN. Ini murni investasi pelaku usaha,” tegasnya.
Populasi Sapi dan Produksi Susu Masih Jadi Tantangan
Urgensi peningkatan populasi sapi semakin besar karena produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan nasional.
Per Februari 2025, populasi sapi potong nasional tercatat sekitar 11,7 juta ekor. Sementara produksi susu dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 21 persen dari kebutuhan nasional yang mencapai 4,6 juta ton per tahun.
Artinya, sekitar 79 persen kebutuhan susu nasional masih harus dipenuhi melalui impor.
Sapi indukan yang didatangkan pemerintah dan pelaku usaha sebagian besar dalam kondisi bunting. Skema tersebut diharapkan dapat mempercepat peningkatan populasi sapi sekaligus memperkuat produksi daging dan susu dalam negeri.
Swasembada Daging Ditargetkan 5-6 Tahun Lagi
Program peningkatan populasi sapi juga diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan nasional dan kebutuhan bahan pangan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya mengakui Indonesia belum mencapai swasembada daging sapi dan kerbau. Kondisi tersebut berbeda dengan komoditas ayam, telur, dan ikan yang dinilai memiliki tingkat kemandirian lebih baik.
Pemerintah menargetkan kemandirian daging sapi dapat diwujudkan dalam lima hingga enam tahun ke depan.
“Kita harus serius. Ini menyangkut pangan rakyat,” kata Zulhas.
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Surabaya