radarsurabayabisnis.id - PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) atau SIG semakin serius mengembangkan bisnis semen rendah karbon di tengah tuntutan industri konstruksi yang semakin mengarah pada pengurangan emisi.
Strategi tersebut mulai menunjukkan hasil. SIG mencatat intensitas emisi gas rumah kaca (GRK) Scope 1 turun 21 persen dibandingkan baseline 2010. Penurunan emisi menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperkuat daya saing melalui produk dan proses produksi yang lebih ramah lingkungan.
Corporate Secretary SIG Vita Mahreyni mengatakan prinsip environmental, social, and governance (ESG) kini tidak lagi sekadar menjadi kewajiban perusahaan untuk memenuhi regulasi.
Baca Juga: Penjualan Semen Indonesia Naik 5,6 Persen, SIG Bidik Kuasai Pasar Jawa Barat
“ESG bukan sekadar memenuhi kewajiban regulasi, tetapi merupakan competitive advantage untuk kesuksesan perusahaan di masa depan,” ujar Vita, Jumat (14/8/2026).
Semen Hijau SIG Punya Emisi 38 Persen Lebih Rendah
Salah satu strategi SIG adalah memperbesar portofolio semen hijau. Produk tersebut menggunakan material dan proses produksi yang lebih ramah lingkungan dengan emisi karbon hingga 38 persen lebih rendah dibandingkan semen konvensional.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya SIG menjawab kebutuhan industri konstruksi yang semakin memperhatikan aspek keberlanjutan dan jejak karbon dalam pembangunan.
Baca Juga: Menata SIG Group, Solusi Bangun Indonesia Bubarkan SBN, Ini Alasannya
Selain mengembangkan produk rendah emisi, SIG juga terus mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dalam proses produksi.
Limbah hingga Sampah Kota Jadi Bahan Bakar
SIG meningkatkan pemanfaatan bahan bakar alternatif yang berasal dari limbah industri, biomassa, hingga sampah perkotaan yang diolah menjadi refuse-derived fuel (RDF).
Sepanjang 2025, penggunaan bahan bakar alternatif SIG meningkat 24 persen menjadi 681.000 ton. Jumlah tersebut setara dengan pengurangan konsumsi batu bara hingga 467.000 ton.
Pada periode yang sama, thermal substitution rate (TSR) SIG meningkat menjadi 9,77 persen.
Dari sisi energi, perusahaan juga memperluas penggunaan sumber energi yang lebih bersih melalui pemasangan panel surya di sejumlah unit operasional.
SIG turut memanfaatkan teknologi Waste-Heat Recovery Power Generation (WHRPG) untuk mengubah panas buang dari proses produksi menjadi energi listrik.
Emisi Scope 2 Juga Berhasil Ditekan
Selain emisi Scope 1, SIG mencatat penurunan emisi Scope 2 sebesar 15 persen dibandingkan baseline 2019.
Untuk memastikan program keberlanjutan berjalan secara konsisten, SIG menjalankan Sustainability Roadmap 2030. Peta jalan tersebut menjadi acuan perusahaan dalam menentukan strategi, indikator, dan target keberlanjutan.
Implementasinya dikawal melalui Komite Keberlanjutan agar aspek ESG semakin terintegrasi dalam pengelolaan bisnis perusahaan.
Kinerja keberlanjutan SIG juga tercermin dalam sejumlah penilaian eksternal. Perusahaan memperoleh ESG Rating 2025 dengan predikat Medium Risk dan skor 25 dari Sustainalytics.
SIG juga mencatat skor 49 dalam Corporate Sustainability Assessment (CSA) S&P dan S&P ESG Rating.
Konsistensi tersebut turut mengantarkan SIG meraih ESG Award 2026 dari Yayasan KEHATI untuk kategori Listed Company sektor Capital Market. Penghargaan tersebut diberikan pada 6 Agustus 2026 di Jakarta.
Langkah SIG menunjukkan bahwa pengurangan emisi kini tidak hanya ditempatkan sebagai agenda lingkungan, tetapi juga menjadi bagian dari strategi bisnis jangka panjang untuk mempertahankan daya saing industri semen di tengah perubahan arah pembangunan global.
Editor : Hany Akasah